Article Details

VALUASI SAHAM DAN IMPLEMENTASI TEORI VOLUME PADA SAHAM BATUBARA

Oleh   Anisa Nanhidayah [29120441]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Erman Sumirat, S.E., M.Buss., CSA, CRP, CIB, Ak.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : Magister Bisnis dan Administrasi - Teknologi
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Subjek : General management
Kata Kunci : batubara, discounted cash flow to equity, discounted cash flow to the firm, teori volume
Sumber : BATUBARA
Staf Input/Edit : Neng Kartika   Neng Kartika
File : 1 file
Tanggal Input : 19 Sep 2022

Industri batubara merupakan salah satu industri yang saat ini menarik untuk dilakukan investasi. Pulihnya perekonomian pasca pandemic covid 19, percepatan energi PTLU, mahalnya harga natural gas membuat permintaan batubara menjadi tinggi. Dikarenakan permintaan batubara yang tinggi membuat harga batubara mengalami kenaikan yang signifikan. Dalam melakukan investasi di saham batubara diperlukan perhitungan nilai intrinsik untuk mengetahui harga wajarnya dibandingkan dengan harga edarnya saat ini. Berdasarkan data yang didapatkan dari bursa efek Indonesia terdapat 10 perusahaan batubara dengan growth tertinggi pada tahun 2021 dan market cap yang besar dengan data laporan keuangan yang lengkap. Diperoleh hasil yaitu BYAN, ADRO, PTBA, ITMG, HRUM, DSSA, INDY, BSSR, MBAP, dan SMMT. Metode valuasi yang digunakan adalah absolute valuation yaitu discounted cash flow to equity dan discounted cash flow to the firm. Metode valuasi lainnya yaitu relative valuation dengan mengambil perbandingan PER, PBV, EV/EBITDA antar perusahaan. Dalam pengambilan keputusan waktu yang tepat saat membeli saham dapat menggunakan teori volume berdasarkan Dow Theory nomor 5 yaitu volume perdagangan mengkonfirmasi tren. Hasil dari perhitungan valuasi dengan metode DCF-FCFE diperoleh bahwa margin safety terbesar pada emiten INDY yaitu 94% dan terendah adalah emiten HRUM yaitu -5%. Sedangkan dengan metode DCF-FCFF diperoleh hasil margin safety terbesar pada emiten ITMG sebesar 79% dan terendah adalah emiten SMMT yaitu -16%. Metode lain yang digunakan melalui relative valuation dengan menggunakan perbandingan PER diperoleh bahwa PTBA, ITMG, BSSR MBAP, dan SMMT memiliki PER yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan lain. Sedangkan melihat dari nilai PBV, INDY dan SMMT memiliki PBV dibawah 1. Secara perbandingan EV/EBITDA hampir seluruh perusahaan memiliki nilai dibawah 6 kecuali HRUM dengan perbandingan EV/EBITDA sebesar 12.98. Secara teknikal berdasarkan Dow Theory nomor 5, harga pasar meningkat yang diikuti oleh peningkatan dari volume transaksi, maka bisa dikatakan jika pasar dalam fase naik, begitu juga sebaliknya, harga menurun yang diikuti dengan peningkatan volume transaksi, maka bisa untuk dikonfirmasi jika pasar sedang di dalam fase turun. Untuk investor dalam melakukan keputusan investasi kembali ke profil masing-masing risiko dan untuk manajemen emiten dengan mengoptimalkan produksi dan pengendalian operasional sehingga diperoleh kualitas batubara yang optimal, serta melakukan ekspansi bisnis kedepannya untuk keberlanjutan bisnis perusahaan.