digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2022 DS PP AGUSTINA KUSUMA DEWI 1.pdf ]
PUBLIC Noor Pujiati.,S.Sos

Film “Setan Jawa” (2016) karya Garin Nugroho merupakan film bisu dengan pendekatan sinematik-orkestra yang memadukan multi disiplin seni, mulai dari film, seni musik, seni tari, dan teater. Dampak dari perpaduan yang terjadi adalah fenomena intertekstual pada gerak visual yang ditengarai memunculkan identitas liyan pada konteks kultural Kejawaan. Fenomena tersebut menjadikan gerak visual pada film “Setan Jawa” sebagai identitas kultural menarik untuk dikaji; dengan tujuan menemukan aturan main keberpaduan elemen gerak visual, merumuskan kode gerak visual, serta makna dan identitas kultural yang terbangun pada film “Setan Jawa”. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan studi budaya, menggunakan metode etno-semiotika, dengan bersandar pada disiplin ilmu semiotika yang merupakan integrasi dari teori kode dan semiotika gerak; termasuk di dalamnya gerak tari Jawa dan gerak wayang kulit Jawa; serta analisis tekstual untuk menganalisis data. Terungkap bahwa pada film “Setan Jawa”, terbangun kode-kode analog, digital, narrowcast, broadcast dan kode-kode perpaduan bersifat ikonik-simbolik. Pemahaman bahwa proses intertekstual yang membangun identitas kultural pada film “Setan Jawa” sebagai film seni, secara prinsip merupakan hasil pertautan, persilangan dan keberpaduan antara kode gerak kamera Barat dengan ‘solah’ gerak realisme simbolik Timur—dalam hal ini adalah narasi budaya Jawa. Pada film “Setan Jawa”, Garin Nugroho menyimpan pesan bahwa masyarakat Jawa pada prinsipnya memiliki falsafah yang luhur sebagai landasan hidup; namun, pada kenyataannya, tak jarang terjadi pencemaran terhadap nilai- nilai filosofis tersebut, hingga kemudian memunculkan tindakan simbolis dan bahasa simbolisme yang berseberangan dengan etika kemasyarakatan kultur Jawa. Penemuan kode baru bersifat ‘ironik’ pada film “Setan Jawa” yang merujuk pada konsep falsafah Jawa, menghadirkan “kode gerak kultural” yang ditandai dengan “lintas (trans) kode”, “kode cair” serta menawarkan definisi gerak dalam makna kultural. Dapat disimpulkan, bahwa proses trans-semiosis gerak kultural ini berelasi dengan mental imagery Garin Nugroho sebagai Sutradara, dalam menafsirkan kultur Jawa yang melatar-belakangi dirinya—dan berdampak memunculkan pola kerja kultural dengan regularitasnya sendiri dalam mengkomunikasikan tradisi Jawa dan budaya Indonesia pada masyarakat dunia, melalui karya film.