Article Details

PENGEMBANGAN SEDIAAN GEL IN-SITU UNTUK PENGHANTARAN OBAT MATA NATAIVHSIN

Oleh   Ine Suharyani [20711041]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Jessie Sofia Pamudji, M.S.;Dr. apt. Saleh Wikarsa, S.Si., M.Si., DEA;Dr. apt. Neng Fisheri Kurniati, S.Si., M.Si.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SF - Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi
Subjek :
Kata Kunci : Natamisin, hidroksipropil-P-siklodekstrin, gel in-situ, mukoadhesif, nanosuspensi, kompleks inklusi
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 01 Jul 2022

Natamisin adalah obat berkhasiat sebagai antifungi yang diisolasi dari kultur Streptomyces natalensis sp. Natamycin efektif terhadap berbagai ragi dan jamur filamen termasuk Candida, Aspergillus, Cephalosporium, Fusarium dan Penicillium. Pada sistem penghantaran obat mata natamisin diharapkan waktu tinggalnya di pra kornea dapat diperpanjang untuk meningkatkan bioavailabilitasnya dan mengurangi efek sistemik obat Natrium alginat digunakan sebagai bahan pembentuk gel karena sifatnya biodegradable dan kemampuan mukoadhesifnya. Penelitian ini benujuan untuk mengembangkan formulasi sistem gel in-situ untuk penghantaran obat mata yang mengandung natamisin. Pada penelitian ini, sistem gel in-situ dibuat dalam dua bentuk sediaan yaitu: nanosuspensi dan kompleks inklusi dengan HP13CD. Nanosuspensi natamisin dibuat dengan menggunakan Tween 80, PEG 400, benzalkonium klorida dan natrium alginat. Optimisasi dilakukan untuk menentukan konsentrasi natrium alginat sebagai bahan pembentuk gel dan PEG 400 sebagai kosurfaktan, waktu penggilingan, pengadukan dengan ultra turrax dan sonifikasi. Optimisasi juga dilakukan terhadap kecepatan pengadukan. Kompleks inklusi dengan HPI3CD dibuat dengan metode pelarutan. Pelarut yang digunakan selanjutnya dihilangkan dengan metode kering beku. Kemudian serbuk dari kompleks inklusi dibuat gel menggunakan natrium alginat, benzalkonium klorida dan dapar fosfat isotonic. Optimisasi basis sediaan dilakukan untuk menentukan konsentrasi natrium alginat yang memberikan efek gelasi paling optimum. Evaluasi nanosuspensi meliputi analisis ukuran partikel, indeks polidispersitas dan stabilitas fisik. Sedangkan evaluasi sediaan kompleks inklusi adalah stabilitas fisik. Terhadap kedua sediaan juga dilakukan uji iritasi mata. uji difusi dan daya mukoadhesifnya. Morfologi partikel dari kedua sediaan diamati menggunakan Scanning Electron Microscop (SEM). Formula optimum yang diperoleh untuk nanosuspensi dalam penelitian ini terdiri dari 8,7% PEG 400, 0,25% natrium alginat dan 10% Tween 80. Ukuran partikel dari suspensi ini masih dalam rentang ukuran nanosuspensi sampai hari ke-13, selanjutnya ukuran partikel meningkat sampai ukuran mikro yaitu 1300-2600 nm sampai hari ke-84. Walaupun ukuran partikel membesar, tetapi ukuran ini masih memenuhi persyaratan suspensi oftalmik yaitu tidak lebih dari 5 f1M. Hasil yang diperoleh dari uji stabilitas fisik adalah pH, viskositas dan konsentrasi pada kedua sediaan stabil selama pengamatan. Hasil uji iritasi terhadap kedua sediaan ini menunjukkan bahwa tidak terjadi efek iritasi pada hewan uji. Jumlah natamisin yang berdifusi setelah jam ke-24 untuk sediaan nanosuspensi adalah 17,08+0,22% dan kompleks inklusi 83,07+0,55%. Daya mukoadhesif untuk sediaan nanosuspensi adalah 10,68+0,59 N/cm2 dan kompleks inklusi 9,02+0,54 N/cm2