Article Details

EVALUASI KEBERLANJUTAN PROGRAM URBAN FARMING DI KAMPUNG HIDROPONIK PENGADEGAN, JAKARTA SELATAN

Oleh   Sheila Hauna Arifa [15418016]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Nurrohman Wijaya, S.T., M.Sc.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SAPPK - Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek :
Kata Kunci : Keberlanjutan, urban farming, Kampung Hidroponik Pengadegan, Multidimensional Scaling, strategi peningkatan.
Sumber :
Staf Input/Edit : Yoninur Almira  
File : 7 file
Tanggal Input : 23 Jun 2022

Urban farming merupakan program signifikan yang dilakukan sejak 2016 di Provinsi DKI Jakarta, tidak terkecuali di lokasi Kampung Hidroponik Pengadegan. Untuk melihat keberlanjutan program tersebut, terutama untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberlanjutan pelaksanaan urban farming di Kampung Hidroponik di Pengadegan, Jakarta Selatan. Lima dimensi keberlanjutan yang berdasarkan studi pustaka digunakan, yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan teknologi. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan survei primer melalui penyebaran kuesioner langsung di lapangan dan wawancara, dilengkapi dengan survei sekunder dengan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan Multidimensional Scaling, Analisis Leverage, dan Analisis Monte Carlo melalui pendekatan RAP-UF. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi keberlanjutan program urban farming di Kampung Hidroponik Pengadegan pada dimensi lingkungan adalah cukup berkelanjutan (50,52%), pada dimensi ekonomi dan sosial adalah kurang berkelanjutan dengan nilai masing-masing 32,77% dan 44,47%. Sedangkan, dimensi kelembagaan dan teknologi adalah tidak berkelanjutan, yaitu 24,65% dan 11,30%. Penelitian ini menghasilkan 11 atribut yang sensitif memengaruhi, yaitu pada dimensi lingkungan penataan lingkungan atau estetika, kondisi pengairan, lahan terbuka hijau produktif. Untuk dimensi ekonomi, insentif/kompensasi pertanian dan modal awal pertanian perkotaan. Untuk dimensi sosial adalah tingkat partisipasi masyarakat, diikuti dengan dimensi kelembagaan yaitu kelembagaan tani, ketersediaan otoritas pengelolaan dan pengendalian lingkungan, kelembagaan penyuluh pertanian perkotaan, serta aturan pertanian perkotaan. Pada dimensi teknologi adalah jenis inovasi teknologi budidaya. Strategi peningkatan keberlanjutan urban farming di Kampung Hidroponik Pengadegan terumuskan, yaitu mengoptimalkan peran dan fungsi Dinas/SKPD untuk meningkatkan peran dalam urban farming, mendorong masyarakat untuk dapat bersikap proaktif, serta mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk dapat memberikan perhatian lebih kepada urban farming. Hasil studi ini juga bermanfaat bagi pembuat kebijakan dan kerangka penilaian keberlanjutan dapat digunakan pada daerah lain.