Article Details

STUDI PETROGENESIS BAUKSIT DAN MINERALISASI SKANDIUM DAERAH TAYAN, KALIMANTAN BARAT

Oleh   Dedi Sunjaya [22019022]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Andri Slamet Subandrio, Dipl.-Geol.;Ir. Nurcahyo Indro Basuki, M.T, Ph.D.;Dr.Eng. Ir. Suryantini, M.Sc.;Dr. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T.;Dr. mont. Andy Yahya Al Hakim, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FITB - Teknik geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Skandium, Bauksit, Laterit, Karakteristik, Eksplorasi
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 24 Mei 2022

Logam skandium (Sc) dibutuhkan dalam industri modern seperti industri pertahanan, pabrik peralatan olahraga dan elektronik berbasis teknologi 4.0. Akibat tingginya permintaan logam Sc menyebabkan harga logam tersebut cukup mahal, yaitu $ 1.500 - $ 2.500 / kg. Namun Indonesia belum mampu memanfaatkan peluang ekonomi potensi Sc tersebut dikarenakan belum mempunyai data sumber daya Sc, walaupun dari penyelidikan terdahulu menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi logam Sc terutama pada endapan supergen seperti laterit nikel dan bauksit. Penyelidikan awal kehadiran Sc pada endapan bauksit PT Antam Tbk. di Tayan, Kalimantan Barat menunjukkan Sc pada kisaran kadar 13,7-52,9 ppm dari berbagai tipe bauksit. Bijih bauksit dengan kandungan Sc antara 20-50 ppm dianggap sebagai sumber daya dan layak dieksploitasi, dan logam Sc dapat diekstraksi dari sisa pengolahan pabrik alumina atau red mud dengan kadar Sc berkisar 80-110 ppm. Berdasarkan informasi tersebut maka dilakukan studi mengenai mineralisasi logam Sc berdasarkan karakteristik petrogenesis tipe bauksit daerah Tayan, sehingga eksplorasi Sc menjadi terarah, efektif dan efisien serta memberi kontribusi untuk pelaporan sumber daya Sc di Indonesia. Tahapan studi ini terdiri dari empat tahap, yaitu tahap studi pustaka, tahap pengambilan data, tahap analisis data dan tahap penyusunan laporan. Tujuan dari sudi ini antara lain menentukan tipe kehadiran Sc terhadap karakteristik bauksit, menganalisis hubungan pola kehadiran Sc terhadap pengayaan senyawa oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3 dan TiO2 penyusun bauksit, dan menentukan target eksplorasi Sc berdasarkan karakteristik tipe bauksit di Tayan. Metode analisis dalam penelitian ini meliputi metode analisis petrografi dan analisis XRD (X-Ray Diffraction). Metode analisis geokimia yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi metode analisis XRF (X-Ray Fluoresence) dan analisis ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry). Studi petrogenesa bauksit diketahui dari analisis petrografi, XRF (X-Ray Fluoresence) dan XRD (X-Ray Diffraction), yang menjelaskan bauksit PT Antam Tbk di Tayan yang berasal dari empat batuan induk berbeda, yaitu diorit piroksen, diorit, diorit kuarsa, dan granodiorit. Bauksit dari diorit piroksen memiliki karakteristik SiO2 10,71-14,39%, Al2O3 38,96-41,39%, dan Fe2O3 23,03-23,41%. Bauksit dari diorit memiliki karakteristik SiO2 10,03-11,53%, Al2O3 45,11-45,76%, dan Fe2O3 16,33-17,27%. Bauksit dari diorit kuarsa memiliki karakteristik SiO2 20,95-25,18%, Al2O3 39,48-41,65%, dan Fe2O3 13,67-14,31%. Bauksit dari granodiorit memiliki karakteristik SiO2 33,04-42,09%, Al2O3 31,98-36,43%, dan Fe2O3 8,39-9,80%. Hasil analisis XRD (X-Ray Diffraction). Studi mineralisasi Sc diperoleh dari analisis ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) pada bauksit yang berasal dari empat batuan induk tersebut. Hasil studi petrogenesa bauksit dan mineralisasi Sc pada bauksit daerah Tayan menjelaskan kandungan Sc pada batuan induk diorit piroksen 15,10 ppm, Sc pada bauksit mengalami pengayaan 3 kali mejadi 42,60-53,30 ppm. Kandungan Sc pada batuan induk diorit 11,10 ppm, Sc pada bauksit mengalami pengayaan 3-4 kali mejadi 33,10-44,30 ppm. Kandungan Sc pada batuan induk diorit kuarsa 6,90 ppm, Sc pada bauksit mengalami pengayaan 3 kali mejadi 21,90-25,10 ppm. Kandungan Sc pada batuan induk granodiorit 5,30 ppm, Sc pada bauksit mengalami pengayaan 2-3 kali mejadi 13,20-14,10 ppm. Kesimpulan studi ini endapan bauksit Tayan berasal dari empat jenis batuan induk, yaitu diorit piroksen, diorit, diorit kuarsa dan granodiorit. Kehadiran Sc pada bauksit mengalami pengayaan kurang lebih 3 kali dari kandungan Sc pada batuan induk. Pola kehadiran Sc berbanding lurus dengan Al2O3 dan Fe2O3 dan berbanding terbalik dengan SiO2. Tipe endapan bauksit Tayan merupakan tipe laterit, sehingga eksplorasi Sc dapat dilakukan sejalan dengan eksplorasi bauksit. Eksplorasi Sc pada endapan bauksit Tayan secara efektif dan efisien direkomendasikan pada batuan yang mengandung Al2O3 dan Fe2O3 melimpah, dalam hal ini pada diorit piroksen dan diorit, sedang bauksit dengan kandungan SiO2 yang melimpah seperti diorit kuarsa dan granodiorit bukan prioritas dalam eksplorasi Sc.