Article Details

PRAKTEK INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA INDUSTRI MINYAK KELAPA YANG BERKELANJUTAN DARI PERSPEKTIF KONSUMEN: STUDI KASUS MINYAK KELAPA PARIGI

Oleh   Nia Desiana [29016016]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Mustika Sufiati, M.Sc.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SBM - Sains Manajemen
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek :
Kata Kunci : life cycle assessment, konsumen, kelapa, dampak lingkungan, keberlanjutan, skenario alternatif
Sumber :
Staf Input/Edit : Neng Kartika  
File : 7 file
Tanggal Input : 09 Mei 2022

Indonesia menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1,672 Mt CO2- eq./tahun, yang disebabkan oleh sektor pertanian sebesar 5%. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi 26% emisi pada tahun 2020. Namun, pendekatan lingkungan di Indonesia masih terbatas pada mitigasi dan adaptasi selama beberapa dekade, sementara penilaian lingkungan berdasarkan pendekatan siklus hidup baru dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini. Saat ini, kelestarian lingkungan menjadi masalah penting bagi konsumen. Begitu pula para petani mulai menyadari bahwa perhatian yang lebih besar terhadap masalah lingkungan akan mengarah pada sumber daya, penghematan energi, dan menghasilkan manfaat ekonomi. Oleh karena itu, studi Life Cycle Assessment (LCA) sangatlah penting berdasarkan pengelolaan limbah oleh para pemangku kepentingan, di mana nilai ekonomi dapat dibuat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberlanjutan sistem di sistem industri kelapa di Indonesia menggunakan pendekatan LCA dan pemangku kepentingan. Melalui estimasi ini, tahap yang paling berkontribusi untuk menimbulkan beban lingkungan diidentifikasi dan skenario alternatif untuk mengurangi beban lingkungan menggunakan prinsip empat R telah diusulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kembali limbah, mengganti energi, mengurangi bahan kimia, dan daur ulang kemasan berkontribusi pada penurunan beban lingkungan di kelapa masing-masing sebesar 98%, 72%, 67%, dan 40%. Akhirnya, prediksi skenario mana yang lebih disukai konsumen untuk meningkatkan keberlanjutan produksi kelapa dievaluasi.