Article Details

EVALUASI PENGARUH PERLINTASAN SEBIDANG KERETA API DAN SIMPANG BERSINYAL TERHADAP KINERJA LALU LINTAS DAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (STUDI KASUS: PERLINTASAN SEBIDANG DAN SIMPANG BERSINYAL JALAN SUNDA, BANDUNG)

Oleh   Istyana Hadiyanti [15016056]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Aine Kusumawati, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Teknik Sipil
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek : Civil engineering
Kata Kunci : perlintasan sebidang, simpang bersinyal, kinerja lalu lintas, dan konsumsi BBM
Sumber :
Staf Input/Edit : Lili Sawaludin Mulyadi   Ena Sukmana
File : 3 file
Tanggal Input : 08 Apr 2022

Generic placeholder image
BAB 1 Istyana Hadiyanti

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 2 Istyana Hadiyanti

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Persimpangan merupakan daerah pertemuan antara dua jalan atau lebih. Perlintasan sebidang Jalan Sunda merupakan salah satu persimpangan yang terbentuk akibat pertemuan antara jalan rel dan jalan raya. Jalan Sunda merupakan jalan kolektor yang memiliki lalu lintas cukup padat setiap harinya dan juga terdapat banyak kereta api yang melintas sehingga dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas. Selain itu, adanya simpang bersinyal yang dekat dengan perlintasan sebidang menyebabkan kinerja lalu lintas di Jalan Sunda semakin menurun. Akibatnya, antrian kendaraan dan tundaan menjadi bernilai tinggi dan mengakibatkan kerugian terhadap Biaya Operasional Kendaraan (BOK), khususnya untuk biaya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Perhitungan kinerja lalu lintas dengan MKJI (1997) menunjukkan bahwa penutupan pintu perlintasan pada saat jam puncak pukul 13.00 – 14.00 menghasilkan nilai rata-rata tundaan sebesar 50,67 detik/smp dan panjang antrian sebesar 603,4 meter. Sedangkan, perhitungan kinerja lalu lintas pada simpang bersinyal Jalan Sunda – Jalan Jawa pada saat jam puncak menghasilkan derajat kejenuhan pendekat Jalan Sunda sebesar 1,11, tundaan sebesar 233,33 detik/smp, dan panjang antrian sebesar 548 meter. Perhitungan tingkat konsumsi bahan bakar minyak dilakukan dengan menggunakan fuel consumption meter dan hanya untuk kendaraan ringan. Konsumsi BBM akibat tundaan perlintasan sebidang dan simpang bersinyal selama jam puncak (13.00 – 14.00) masing-masing bernilai 11,365 liter dan 46,199 liter, dengan total konsumsi BBM sebesar 57,56 liter. Kerugian biaya konsumsi BBM akibat perlintasan sebidang dan simpang bersinyal selama jam puncak (13.00 – 14.00) masing-masing bernilai Rp86.945,27 dan Rp353.424,08, dengan total kerugian biaya konsumsi BBM adalah Rp440.369,35. Total kerugian biaya konsumsi BBM sebesar 80% disebabkan oleh tundaan akibat adanya simpang bersinyal sehingga diberikan rekomendasi manajemen lalu lintas berupa pelarangan belok kiri langsung pada simpang bersinyal Jalan Sunda – Jalan Jawa yang mungkin dapat meningkatkan kapasitas pendekat simpang dan menurunkan tundaan. Hasilnya, konsumsi BBM selama jam puncak (13.00 – 14.00) setelah dilakukan manajemen lalu lintas berkurang 71% menjadi 16,226 liter dengan kerugian sekitar Rp124.398,97.