Article Details

PEMODELAN HIDROGEOLOGI PADA PERENCANAAN DEWATERING AIR PANAS DI LOKASI PIT SMK

Oleh   Erland Prasetya [22715008]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Irwan Iskandar, S.T., M.T., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FITB - Teknik Air Tanah
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Pemodelan hidrogeologi, Dewatering, Airtanah, Penambangan.
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 7 file
Tanggal Input : 22 Mar 2022

PT ABC merupakan salah satu tambang emas yang beroperasi di Provinsi Sulawesi Utara. Salah satu lokasi bukaan tambang aktif PT. ABC adalah pit SMK. Permasalahan utama yang terjadi di pit SMK sejak pertengahan tahun 2016 adalah keterdapatan aliran airtanah dengan debit yang cukup signifikan besar (debit terukur bulan September 2017 > 400 liter/detik), dan merupakan air panas dengan temperatur lebih dari 70o C. Hal tersebut mengakibatkan proses penambangan terganggu, dimana ruang gerak alat tambang menjadi terbatas dan proses produksi menjadi terhambat. Kondisi hidrogeologi menjadi penting untuk diketahui terkait alternatif penanganan yang tepat untuk mengatasi permasalah air panas dengan debit besar yang keluar pada pit SMK. Dalam studi ini pemodelan hidrogeologi berdasarkan model konseptual selanjutnya disimulasi dalam model numerik sebagai pendekatan perencanaan dalam penanganan kuantitas airpanas yang keluar pada pit SMK. Berdasarkan pengamatan lapangan, literatur studi, dan data terdahulu dapat disimpulkan bahwa media hidrogeologi dan aliran air tanah di daerah penelitian sebagian besar dikendalikan oleh sistem media rekahan. Diperkirakan bahwa zona permeabel tinggi lebih mungkin berada di kedalaman dangkal (<60-100 m kedalaman), pada zona lebih dalam diperkirakan permeabilitas bernilai rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radius penurunan air tanah efektif adalah pada debit pemompaan sebesar 60 liter/detik, yang menghasilkan radius penurunan airtanah maksimum sejauh 220 meter ke arah Utara-Selatan, dan 150 meter ke arah Barat-Timur. Simulasi dewatering juga menunjukkan bahwa skenario dimana titik pemompaan tersebar mengikuti struktur dominan merupakan skenario yang paling optimum dalam menurunkan airtanah hingga di bawah bottom pit. Pola struktur geologi selain berperan penting terhadap kondisi hidrogeologi daerah studi, juga berperan dalam penentuan lokasi titik pemompaan yang efektif, dimana kecenderungan pola perubahan airtanah adalah mengikuti struktur dominannya.