Article Details

ANALISIS HIDROGEOLOGI DAN KERENTANAN PENCEMARAN AIR TANAH DI LERENG BARAT LAUT GUNUNG MALABAR, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Oleh   Muhammad Farhan Hudaya [12017035]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Dasapta Erwin Irawan, S.T., M.T.;Arif Susanto, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Malabar, Susceptibility Index (SI), hidrogeologi gunung api
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 16 Mar 2022

Daerah penelitian berada di lereng bagian barat laut Gunung Malabar, meliputi Kecamatan Cimaung, Banjaran Wetan dan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Luas daerah penelitian seluas 72 km2. Masalah yang sering terjadi di daerah penelitian adalah kekurangan persediaan air bersih saat musim kemarau berkepanjangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem hidrogeologi daerah penelitian, memetakan kerentanan pencemaran air tanah, dan merekomendasikan sistem pengelolaan air yang lebih efektif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi lapangan dengan 19 titik pengamatan, analisis kualitas air tanah dengan TDS dan pH menggunakan 46 data primer, dan analisis Susceptibility Index (SI) menggunakan data sekunder. Bentang alam daerah penelitian terdiri dari Puncak Malabar di sebelah tenggara daerah penelitian dengan Gumuk Puntang dan Gumuk Haruman di arah timur laut dan barat laut puncak Malabar. Endapan yang tersebar di daerah penelitian merupakan endapan gunung api Kuarter terdiri dari breksi piroklastik, lava andesit, dan breksi laharik. Struktur primer geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah kekar berlembar. Struktur sekunder yang berkembang di daerah penelitian adalah struktur Sesar Geser Mengiri Cigeruh, Sesar Mengiri Citiis, dan Sesar Turun Menganan Cipadarek. Sistem hidrogeologi daerah penelitian memiliki sistem endapan gunung api, jenis akuifer yang menjadi objek penelitian merupakan akuifer bebas dengan satuan akuifer breksi piroklastik, akuifer rekahan lava andesit, dan akuifer breksi laharik. Aliran air tanah mengalir dari arah tenggara daerah penelitian menuju arah utara. Penentuan kualitas air tanah dilakukan menggunakan parameter fisik dan kimia air tanah, parameter fisik dan kimia yang diukur adalah TDS dan pH, rentang nilai TDS yang diukur dari sampel mata air dan sumur gali berkisar 11-70 ppm dan rentang nilai untuk pH berkisar 4,3-8,1. Peta kerentanan tercemarnya air tanah dibuat dengan metode Susceptibility Index (SI) melibatkan 5 parameter yaitu kedalaman muka air tanah (MAT), imbuhan air tanah, litologi akuifer, kemiringan lereng, dan tata guna lahan. Hasilnya adalah daerah yang memiliki kerentanan sangat rendah menempati 12% daerah penelitian dengan nilai SI di rentang 8,98-52,31, rendah 20 % dengan nilai SI 52,69-60,14, sedang 40 % dengan nilai SI 60,25-67,7, tinggi 25 % dengan nilai SI 67,85-75,21, dan sangat tinggi 3 % dengan nilai SI 75,47-82.98. Validasi pemetaan SI dilihat dari korelasi TDS dan ion Cl- dengan nilai SI, korelasi spearman menggunakan TDS memiliki koefisien korelasi 0,46 dan korelasi menggunakan ion Cl- memiliki koefisien korelasi 0,63. Permasalahan mengenai ketersediaan air bersih sering terjadi apabila musim kemarau berkepanjangan. Konsep pengelolaan air terpusat yang dikelola oleh bumdes dan penggunaan meteran air di setiap rumah warga menjadi saran yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah air di musim kemarau.