digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Yulvianah
PUBLIC Latifa Noor

Kesehatan merupakan suatu hal penting yang harus diperhatikan terutama kebersihan tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif mikrokokus yang sering dianggap sebagai patogen utama bagi manusia, sedangkan Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif yang memiliki kandungan peptidoglikan lebih sedikit dan kandungan lipid lebih banyak. Penyebaran bakteri S. aureus dan E. coli paling sering ditularkan dari tangan ke tangan. Sabun dan handsanitizer menjadi barang vital yang sangat akrab dengan kita saat ini, tersedia di setiap penjuru tempat, dan menjadi kebutuhan setiap saat. Namun penggunaan jenis sabun yang tidak tepat, sering menimbulkan dampak lain yang tidak diharapkan pada kulit. Daun kelor (Moringa oleifera) memiliki senyawa aktif yang dapat berperan sebagai zat antibakteri. Pohon kelor banyak ditanam warga masyarakat di sekitar sekolah, namun pemanfaatannya masih sangat kurang. Penggunaan sabun pencuci tangan cair berbahan baku daun kelor yang memiliki kandungan antibakteri alami sebagai pengganti bahan sintetis merupakan salah satu solusi untuk melindungi kulit dari infeksi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan berpikir kritis siswa dalam mempelajari aktivitas antibakteri sabun pencuci tangan kelor melalui pembelajaran berbasis Science, Tecnology, Engineering, and Mathematics (STEM). STEM memiliki Engineering Design Procces (EDP) diharapkan dapat merangsang kemampuan memecahkan masalah dalam pembelajaran di sekolah. Pendidikan STEM adalah pendekatan dalam pendidikan dimana sains, teknologi, engineering, dan matematika terintegrasi dengan proses pendidikan yang berfokus pada pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata serta dalam kehidupan nasional. Penelitian tindakan laboratorium dilakukan di SMKN 13 Analis Kimia Bandung. Ekstraksi daun kelor dilakukan dengan metode soxhletasi menggunakan pelarut etanol 96%, yang dilanjutkan uji kualitatif kandungan senyawa metabolit sekunder tanin, flavonoid, saponin, dan polifenol. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram pada sabun pencuci tangan tanpa kelor sebagai kontrol negatif, sedangkan sediaan tablet ciprofloxacin 500 mg, etanol 70%, dan CuSO4 20% digunakan sebagai kontrol positif. Daya hambat sabun pencuci tangan kelor terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dibandingkan dengan sabun pencuci tangan cair tanpa kelor menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) melalui enam kali pengulangan. Diameter zona hambat bakteri dikategorikan kekuatannya berdasarkan penggolongan David and Stout. Rerata zona hambat ekstrak daun kelor terhadap bakteri E. coli dan S. aureus diperoleh hasil masing-masing sebesar 17,28 mm dan 12,60 mm. Rerata zona hambat sabun kelor dengan variasi konsentrasi: 5%, 10%, 20%, 40%, 80% (w/v) terhadap bakteri S. aureus diperoleh hasil masing-masing sebesar 24,25; 24,88; 25,42; 25,55; dan 28,23 mm, sedangkan rerata zona hambat terhadap bakteri E. coli diperoleh hasil yang lebih kecil yaitu: masing-masing sebesar 22,20; 23,02; 23,96; 24,96; dan 26,43 mm. Kadar tanin pada sabun yang mengandung ekstrak daun kelor dan sabun yang mengandung serbuk daun kelor, dianalis dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) menggunakan fase diam kolom C18 Luna 150 x 460 mm, 5 ┬Ám, fase gerak methanol : aquabidest (1:3), kecepatan alir 1,5 mL/menit, detektor UV 254 nm, dan waktu retensi 1,7 menit, memperoleh hasil sebesar 28,26 ppm dan 46,49 ppm. Penelitian tindakan kelas dilakukan di SMA Negeri 2 Padalarang dengan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah siswa SMA Negeri 2 Padalarang, yang berjumlah 36 siswa kelas XI MIPA yang dipilih secara convinience sampling untuk menggambarkan profil siswa saat merancang formula sabun pencuci tangan berbahan baku kelor, mempelajari aktivitas antibakteri sabun ekstrak daun kelor, dan sabun serbuk daun kelor terhadap bakteri E. coli dan S. aureus, melalui EDP pada pembelajaran berbasis STEM. Analisis hasil penelitian tindakan kelas yang diperoleh kelas STEM, dilakukan dengan cara membandingkan ketercapaian hasilnya berdasarkan observasi aktivitas belajar siswa di kelas dan indikator kompetensi yang dinilai baik individu maupun kelompok. Keterampilan berpikir kritis hampir seluruh siswa kelas STEM dapat ditingkatkan melalui pembelajaran menggunakan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) pada topik pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera) untuk pembuatan sabun pencuci tangan ramah lingkungan.