Article Details

FORMULASI DAN EVALUASI SERUM ARBUTIN DALAM SISTEM VESIKEL NIOSOM DAN TRANSFERSOM

Oleh   Yuke Dherrvani Terzieclara [20719004]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. rer. nat. apt. Rachmat Mauludin, S.Si., M.Si.;Dr. Yuda Prasetya Nugraha, S.Farm., M.Si.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SF - Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek :
Kata Kunci : arbutin, niosom, transfersom, hidrokinon, stabilitas
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 17 Jan 2022

Arbutin merupakan senyawa dengan struktur mirip hidrokinon yang banyak digunakan sebagai pengganti hidrokinon. Pembuatan vesikel niosom dan transfersom diharapkan mampu meningkatkan penetrasi Arbutin yang hidrofil ke dalam stratum corneum. Penelitian ini bertujuan membandingkan stabilitas dan kemampuan vesikel untuk menjerap arbutin, juga untuk mengetahui keamanan nanopartikel arbutin sebagai produk kosmetik melalui uji iritasi secara invitro dan melihat efektifitasnya melalui uji difusi. Penelitian dilakukan dengan melakukan optimasi pada proses pencampuran, proses sonikasi, serta optimasi formula. Formula optimal dihasilkan dari komposisi Span-20 : Cholesterol : Arbutin (200 µmol : 40 µmol : 2%) untuk niosom dan dengan komposisi Phosphatydylcholine : Sodium Deoxycholate : Arbutin yang sama dalam membuat transfersom. Pengukuran diameter dan indeks polidispersitas dilakukan menggunakan Particle Size Analyser menghasilkan diameter 290,3±3,14 nm , PI 0,399±0,01, efisiensi penjerapan sebesar 66,61±1,85 %, dan zeta potensial -24,6±2,29 mV untuk niosom dan diameter 245,13±5,48 nm, PI 0,359±0,02, efisiensi penjerapan sebesar 67,91±0,99 %, dan zeta potensial sebesar -55,27±3,65 mV untuk transfersom. Pengamatan morfologi menggunakan Transmission Electron Microscope (TEM) menunjukkan bahwa vesikel niosom dan transfersom yang dibuat berbentuk bulat sferis dengan ukuran <300nm. Ukuran vesikel niosom dan transfersom tidak mengalami perubahan setelah disimpan pada suhu 25ºC dan 40ºC, Evaluasi stabilitas pada serum niosom dan transfersom menunjukkan kestabilan pH dan viskositas, namun terjadi penurunan kadar Arbutin selama penyimpanan. Serum transfersom lebih stabil daripada serum niosom dan serum arbutin. Uji iritasi menujukkan bahwa serum niosom, serum transfersom, niosom, transfersom serta basis serum tidak mengiritasi kulit kelinci. Profil difusi serum niosom menunjukkan kempampuan serum melepaskan zat aktif sebanyak 2,3x dibandingkan dengan serum tanpa vesikel, dan 5,9x dibandingkan serum transfersom.