Artikel Terbaru

EFEK PERSEPSI AKSESIBILITAS TERHADAP PREFERENSI HEDONISTIK DAN PEMBENTUKAN TIPOLOGI WISATAWAN: STUDI KASUS TAMAN NASIONAL KOMODO-INDONESIA

Oleh   Fitri Rahmafitria [35418001]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Drs. Arief Rosyidie, M.S.P., M.Arch., Ph.D.;Dr. Ir. Heru Purboyo Hidayat Putro, DEA;Dr.Eng. Puspita Dirgahayani, S.T., M.Eng.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SAPPK - Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek :
Kata Kunci : aksesibilitas, tipologi wisatawan, motivasi wisatawan, preferensi hedonistik, wisata di kawasan konservasi, Taman Nasional Komodo
Sumber :
Staf Input/Edit : Yoninur Almira  
File : 11 file
Tanggal Input : 2021-09-29 08:55:21

Efek aksesibilitas terhadap perilaku wisatawan di kawasan konservasi masih menjadi perdebatan para peneliti. Beberapa peneliti menjelaskan adanya pengaruh signifikan tipe akses terhadap perilaku wisatawan. Sementara peneliti lain berargumen bahwa aksesibilitas bukanlah komponen utama dalam pengambilan keputusan wisatawan. Namun sejauh ini belum ada peneliti yang menjelaskan bagaimana kaitan antara kemudahan akses dengan tipologi wisatawan dan efeknya terhadap perilaku abai yang merusak lingkungan atau mengancam keselamatan diri. Atas dasar kesenjangan ini, riset disusun dengan hipotesis dasar: “Persepsi aksesibilitas berpengaruh terhadap meningkatnya motivasi serta preferensi hedonistik, sehingga ditemui wisatawan yang potensial melakukan tindakan abai di kawasan konservasi”. Disertasi ini disusun melalui 3 tahap, pertama merumuskan konsep aksesibilitas wisata di kawasan konservasi. Kedua, eksplorasi pengaruh aksesibilitas terhadap motivasi dan preferensi hedonistik yang menjadi dasar perilaku abai. Ketiga, menyusun tipologi wisatawan yang baru di kawasan konservasi. Studi dilakukan dengan pendekatan positivistik karena diawali dengan perumusan argumen teoretis yang dibuktikan dalam penelitian. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Komodo (TNK) yang merupakan destinasi wisata prioritas di Indonesia, populer di tataran internasional. TNK mengalami peningkatan jumlah pengunjung yang tajam sejak tahun 2016, dan sebagian besar wisatawannya memiliki perilaku hedonistik. Karakteristik ini menjadikan TNK sebagai kawasan dengan segmentasi wisatawan yang luas, sehingga dapat diperoleh responden dengan kondisi fisik dan psikologis yang beragam. Sesuai dengan tahapannya, riset ini menggunakan tiga analisis data statistik, yaitu Analisis Faktor, Analisis SEM-PLS dan Analisis non hirarki K-Mean Cluster. Data dasar diperoleh dari kuisioner yang disebarkan kepada wisatawan secara daring menggunakan pendekatan convenience sampling. Data berasal dari 534 responden yang merupakan wisatawan mancanegara dan domestik, yang berkunjung ke TNK pada rentang tahun 2016 hingga 2019.iv Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas wisata konservasi terdiri atas tiga dimensi, yaitu dimensi destinasi, dimensi individu dan dimensi konservasi. Secara teoretis aksesibilitas wisata konservasi tidak bisa dimaknai tunggal, karena ada unsur kemudahan dan hambatan yang harus dipertimbangkan secara bersamaan. Pemahaman aksesibilitas yang terperinci akan mampu menjawab pengaruh aksesibilitas terhadap perilaku wisatawan, karena mengaitkan antara pendekatan geografis dengan psiko-sosial. Riset ini juga menunjukkan bahwa melalui konsep aksesibilitas yang spesifik, dapat dibuktikan adanya pengaruh antara kemudahan akses dengan meningkatnya motivasi eksternal wisatawan untuk mendapatkan penghargaan dan pengakuan sosial dalam berwisata. Mereka menginginkan sarana prasarana yang lebih mudah dan nyaman, serta pembangunan yang lebih massif di kawasan konservasi. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi kawasan konservasi karena menunjukkan adanya potensi perilaku abai dari wisatawan yang dapat meningkatkan kerusakan lingkungan dan kecelakaan wisata. Selain ditemukannya tipe real ecotourist dan relaxing nature tourist, riset ini juga menemukan adanya 2 tipe wisatawan baru yang berpotensi melakukan tindakan abai selama berwisata. Pertama, tipe adventure hedonistik tourist, yaitu mereka yang memiliki keterampilan wisata petualangan dan motivasi kebanggaan yang tinggi, sehingga dapat bertindak omnipotent dan merasa invulnerability. Kedua high risk hedonistik tourist, yaitu wisatawan yang memiliki kesenjangan persepsi aksesibilitas individu yang tinggi karena rendah keterampilan wisata petualangannya namun motivasi kebanggaannya tinggi, sehingga berpotensi melakukan tindakan yang mencelakakan diri atau orang lain. Kedua tipe ini menjadi bukti adanya efek aksesibilitas terhadap keberadaan tipe wisatawan abai ke kawasan konservasi. Riset ini memberikan kontribusi terhadap teori aksesibilitas, bahwa karakteristik aksesibilitas wisata konservasi berbeda dengan aksesibilitas transportasi perkotaan pada umumnya yang kuat pada dimensi fisik. Aksesibilitas wisata konservasi memiliki dimensi individu yang lebih kuat menggambarkan persepsi aksesibilitas secara keseluruhan. Selain itu temuan telah mengembangkan Teori Determinasi Diri (SDT), bahwa dalam konteks wisata, kemudahan akses berpengaruh signifikan terhadap seluruh bentuk motivasi pada rentang intrinsik hingga ekstrinsik. Berbeda dengan SDT yang menjelaskan bahwa jika kemudahan fisik sebagai salah satu faktor eksternal, berpengaruh terhadap motivasi intrinsik, maka pengaruh pada motivasi ekstrinsiknya tidak akan signifikan, begitupun sebaliknya. Meskipun hasil penelitian ini mengkonfirmasi efek aksesibilitas terhadap perilaku wisatawan, namun ternyata aksesibilitas bukan variabel yang paling baik dalam membangun tipologi wisatawan. Bahkan pengaruh aksesibilitas terhadap perilaku wisatawan relatif kecil. Motivasi tetap menjadi variabel yang penting dalam tipologi, namun integrasi dengan aksesibilitas subyektif dan obyektif akan mampu menjelaskan perilaku abai wisatawan di kawasan konservasi. Riset ini juga menunjukkan bahwa peran ilmu psikologi dan sosial sangat pentingv dalam perencanaan kawasan wisata konservasi. Ontologi dasar yang dapat ditarik dari kajian aksesibilitas terhadap teori perencanaan menjelaskan bahwa perilaku individu penting dieksplorasi dan dipertimbangkan dalam perencanaan karena akan berkontribusi pada perilaku kolektif populasi. Perilaku populasi yang buruk, lahir dari pemahaman dan sikap individu yang buruk. Hal ini menunjukkan bahwa eksplorasi kajian psikologi penting dilakukan secara ekstensif melalui berbagai studi kasus perencanaan kawasan yang berbeda, untuk mengembangkan teori perencanaan. Dengan meningkatnya kecenderungan wisata alam di kawasan konservasi, maka secara praktis, riset ini bermanfaat bagi perencana dan pengelola kawasan wisata konservasi. Kebijakan membuka akses wisata di kawasan konservasi perlu dipertimbangkan secara komprehensif sesuai dimensi aksesibilitas, sehingga dapat membangun perilaku wisatawan yang positif. Selain itu ditemukannya tipologi wisatawan yang abai di kawasan konservasi menunjukkan bahwa penting menyusun program edukasi kepada wisatawan saat berada di destinasi, sebagai salah satu bentuk pencegahan dan pengawasan perilaku wisatawan. Selain itu pemerintah harus mempersiapkan sertifikasi ekowisata pagi pemandu dan manajemen destinasi, yang menjamin proses edukasi mengenai konservasi berjalan sesuai standar.