Artikel Terbaru

KAJIAN ASPEK SIMBOLIK LISUNG DALAM FALSAFAH MASYARAKAT ADAT KASEPUHAN CIPTAGELAR

Oleh   Tiara Isfiaty [37017003]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Irma Damajanti, S.Sn., M.Sn.;D.Sc.(Tech.) Imam Santoso, S.T., M.Phill.;;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : FSRD - Ilmu Seni Rupa dan Desain
Fakultas :
Subjek :
Kata Kunci : tafsir kultural, lisung, falsafah Sunda, perempuan Sunda, aspek simbolik.
Sumber :
Staf Input/Edit : Noor Pujiati.,S.Sos  
File : 1 file
Tanggal Input : 2021-09-24 10:55:07

Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar merupakan suatu kelompok sosial Sunda yang menjalankan kehidupannya berdasarkan tatanan adat warisan leluhur. Mereka memiliki karakteristik sistem sosial, cara hidup, cara berpikir, pengetahuan, perangkat nilai dan kepercayaan tersendiri. Manifestasinya dapat ditemukan dalam berbagai artefak budaya. Lisung adalah artefak budaya yang berelasi dengan keyakinan setempat bahwa bertani merupakan pekerjaan terbaik dan ajaran kehidupan yang paling hakiki. Pada penelitian ini, proses pencarian makna lisung akan dilakukan berdasarkan keilmuan seni rupa dan desain. Ada tiga tahap yang ditetapkan, diawali dengan tahap kajian aspek rupa lisung. Dilanjutkan ke tahap kedua yang merelasikan aspek rupanya sebagai ungkapan simbolik. Tahap ketiga merupakan tahap legitimasi lisung yang berelasi dengan falsafah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Penelitian aspek simbolik lisung dilakukan berdasarkan pemahaman dan pengalaman warga Kampung Gede Ciptagelar. Untuk itu paradigma penelitian yang ditetapkan adalah fenomenologi dengan etnografi sebagai metode penelitiannya. Metode etnografi dilakukan dengan strategi tracking. Teknik validasi data dilakukan melalui triangulasi. Model triangulasi yang ditetapkan pada penelitian ini adalah triangulasi sumber untuk mendapatkan obyektifitas temuan melalui tiga sumber data berupa data lapangan, wawancara dan pustaka. Tujuan penelitian adalah memahami relasi antara aspek rupa dan guna lisung, mengungkap pengetahuan lokal yang memberi nilai dan tafsir tertentu pada lisung, dan menemukan makna lisung yang bersifat kultural khususnya Sunda. Temuan penelitian adalah bahwa lisung tidak dapat digantikan oleh alat apapun. Kehadiran fisik lisung menjadi narasi tentang (a) idealisme perempuan Sunda, perempuan dengan sikap bathin seorang istri yang mengabdi pada pasangan dan keluarganya, (b) penyatuan laki-laki dengan perempuan sebagai dua karakter yang saling mengadakan kehidupan baru dan (c) daur kehidupan mahluk hidup. Sikap menghormati lisung bahwasanya dapat diidentifikasi dari perlakuan tertentu. Pemaknaan lisung adalah upaya memaknai kehidupan. Dalam konteks tindakan, upaya pemaknaan dimanifestasikan sebagai konsep spasial (segitiga, linear dan memusat), esensi penyucian kembali dan pengingat kefanaan manusia. Faktor- faktor pemaknaan lisung dalam konteks artefak dan tindakan menemukan irisan berupa konsep harmoni berpasangan atau sakuren.