Article Details

UNDERPRICING in INITIAL PUBLIC OFFERING EMPHIRICAL STUDY of JSX CASE (2004-2006)

Oleh   Dimas Werhaspati (NIM 190 04 039)
Kontributor / Dosen Pembimbing : Pembimbing : Deddy P. Koesrindartoto Ph.D
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek :
Kata Kunci : IPO, underpricing, par-pricing, overpricing.
Sumber :
Staf Input/Edit :  
File : 7 file
Tanggal Input : 2012-05-30 15:07:06

Abstrak: Perusahaan yang berbasis bisnis adalah perusahaan yang bertujuan untuk memaksimalisasi nilai dari pemilik perusahaan dan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara yang bisa ditempuh perusahaan untuk membiayai proyek-proyeknya adalah dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) yaitu dengan menjual sahamnya atau kepemilikannya di pasar modal. Dalam kegiatan ini pihak-pihak yang terlibat adalah perusahaan itu sendiri, investor atau penanam modal, underwriter, dan regulator pasar modal. Harga penentuan pada saat IPO oleh pihak-pihak tersebut menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah IPO tersebut bisa dikatakan berhasil atau tidak, dan yang tentunya akan mempengaruhi kepentingan-kepentingan pihak-pihak terkait. Tujuan perusahaan melakukan IPO adalah untuk memperoleh tambahan modal dari publik dan investor luar, dan juga untuk bisa memperluas kapasitas bisnisnya. Dengan IPO, perusahaan akan memperoleh akses ke modal dari masyarakat luas yang bisa menurunkan biaya pendanaan dan investasi, tetapi sekaligus memperoleh kewajiban-kewajiban selayaknya sebagai perusahaan terbuka. Topik IPO sudah lama menarik perhatian dari para peneliti di bidang ekonomi dan keuangan, dan banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa harga IPO cenderung di bawah harga yang seharusnya atau harga pasaran yang merugikan bagu pihak perusahaan tersebut. Hal itu berarti bahwa harga saham pada saat IPO di pasar perdana lebih rendah dari pada harga saham untuk perusahaan yang sama yang dijual pada pasar kedua (bursa umum). Di Indonesia terdapat 31 perusahaan yang melakukan IPO dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, yang kemudian akan dijadikan bahan analisa di penelitian ini. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menemukan bukti adanya kecenderungan harga IPO berada di bawah harga pasar dalam pengamatan jangka pendek atau bahkan harganya di atas harga pasar atau sesuai dengan harga pasar (sampai dengan 3 bulan). Pendekatan yang dilakukan di penelitian ini adalah Abnormal Return pada saham-saham terkait dan hasilnya akan dikaitkan dengan teori-teori pasar modal yang ada. Ternyata hasil dari tes hipotesa yang dilakukan (one sample t-test) fenomena harga IPO berada di bawah harga pasar memang terjadi, untuk lebih spesifik hal itu terjadi pada pengamatan di hari pertama penawaran, minggu pertama sampai dengan minggu ke-empat, tetapi tidak terjadi pada saat pengamatan di bulan ke-3 (harga IPO tidak berada di bawah atau di atas harga pasar). Nilai pengembalian dan resiko dari saham-saham IPO juga akan dijelaskan di penelitian ini, sehingga hasilnya bisa digunakan sebagai gambaran dan juga strategi bagu pihak-pihak terkait. Mengingat banyak keterbatasan dalam penelitian ini, disarankan bagi peneliti selanjutnya agar bisa melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang lebih dalam dan pembelajaran yang lebih jauh agar hasilnya lebih optimal dan bisa mengaiktkan fenomena yang terjadi dengan landasar teori yang lebih tepat.