Artikel Terbaru

KAJIAN BIAYA DAN KEEKONOMIAN PROYEK PENGEMBANGAN PLTP KAPASITAS 20 MW DAN 55 MW DI INDONESIA

Oleh   Fachry Nugraha [12212028]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ir. Nenny Miryani Saptadji, Ph.D.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FTTM - Teknik Perminyakan
Fakultas : Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
Subjek : Mining & related operations
Kata Kunci : biaya, keekonomian proyek, proyek panas bumi, pembangkit listrik
Sumber :
Staf Input/Edit : Suharsiyah   Ena Sukmana
File : 2 file
Tanggal Input : 2021-04-23 14:34:52

Generic placeholder image
2016 TA PP FACHRY NUGRAHA 1.pdf ]

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Banyak proyek panas bumi yang sedang dan akan dikembangkan di Indonesia. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi diharapkan akan meningkat dari 1.493 MW menjadi 7.238,5 MW pada tahun 2025. Dengan banyaknya proyek yang akan dilaksanakan untuk memenuhi target tersebut, maka diperlukan sebuah kajian yang memberikan gambaran mengenai kebutuhan biaya serta kajian keekonomian untuk pengembangan suatu proyek panas bumi. Studi ini akan memberikan gambaran mengenai komponen biaya investasi pengembangan lapangan panas bumi beserta besarannya yang diperhitungkan dalam pengembangan pembangkitan PLTP berkapasitas 20 MW dan 55 MW di Indonesia. Hasil kajian biaya ini kemudian diperhitungkan sebagai masukan untuk menghitung keekonomian proyek tersebut yang digambarkan oleh nilai Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), dan Pay Out Time (POT) yang akan memberikan pertimbangan layak atau tidaknya suatu proyek tersebut untuk dilanjutkan. Biaya modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan PLTP berkapasitas 20 MW adalah sebesar 142 juta US$ atau 7,1 juta US$/MW dengan biaya operasi dan pemeliharaan sebesar 2,74 juta US$/tahun dan biaya sumur Make-up sebesar 22,5 juta US$. Untuk mencapai IRR = 16%, pada tahun 2023 diperlukan harga listrik sebesar 16,135 sen US$/kWh. Sementara itu, biaya modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan PLTP berkapasitas 55 MW adalah sebesar 303,45 juta US$ atau 5,52 juta US$/MW dengan biaya operasi dan pemeliharaan sebesar 5,225 juta US$/tahun dan biaya sumur Make-up sebesar 82,5 juta US$. Untuk mencapai IRR = 16%, pada tahun 2023 diperlukan harga listrik sebesar 11,789 sen US$/kWh.