Artikel Terbaru

PENYUSUNAN PROGRAM PEMELIHARAAN PERKERASAN LENTUR BERDASARKAN EVALUASI KONDISI FUNGSIONAL MENGGUNAKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) DAN METODE BINA MARGA (STUDI KASUS : JALAN TOL JAKARTA-CIKAMPEK KM 16+000 S/D 21+000)

Oleh   Indah Kumala Sari [26918007]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Bambang Sugeng Subagio, DEA;Dr. Harmein Rahman, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTSL - Sistem dan Teknik Jalan Raya
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek :
Kata Kunci : pavement condition index, bina marga, simplified model hdm-4, biaya pemeliharaan
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2021-03-17 17:42:49

Jalan Tol Jakarta-Cikampek merupakan salah satu ruas jalan tol yang dikelola oleh PT. Jasa Marga. Salah satu substansi pelayanan yang harus dipenuhi operator jalan tol dalam menjamin pelayanan bagi pengguna yang membayar tarif tol adalah kondisi minimum jalan tol. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi kondisi fungsional perkerasan terlebih dahulu untuk memperoleh program pemeliharaan yang tepat dan berkelanjutan dalam memenuhi substansi tersebut. Metode evaluasi kondisi fungsional perkerasan yang digunakan secara luas adalah metode Pavement Condition Index (PCI) dan metode Bina Marga. Penelitian ini mengevaluasi kondisi fungsional perkerasan dengan metode PCI dan metode Bina Marga, membandingkan hasil evaluasi dari kedua metode tersebut, mengevaluasi jenis kerusakan yang paling berpengaruh terhadap kebutuhan biaya pemeliharaan berdasarkan nilai pengurang (deduct value) dan rekomendasi penanganan setiap jenis kerusakan, mengembangkan skenario pemeliharaan berdasarkan hasil evaluasi kondisi perkerasan dengan metode PCI dan prediksi nilai IRI berdasarkan simplified model HDM-4, serta memilih skenario pemeliharaan dengan biaya yang paling minimal. Kondisi perkerasan berdasarkan hasil evaluasi dengan metode PCI lebih buruk dibandingkan hasil evaluasi dengan metode Bina Marga. Beberapa perbedaan hasil evaluasi dengan kedua metode disebabkan oleh perbedaan pembagian skala penilaian, jenis kerusakan dan indikator penilaian yang di yang ditinjau. Jenis kerusakan yang paling berpengaruh terhadap kebutuhan biaya pemeliharaan adalah Rutting (Alur) sebesar 45,54% dan Alligator Cracking (Retak Kulit Buaya) sebesar 19,35%. Skenario pemeliharaan dengan kebutuhan biaya pemeliharaan paling minimal adalah skenario 4, yaitu melakukan rekonstruksi di tahun pertama dengan akumulasi biaya pemeliharaan sebesar Rp144.335.974.113.