Article Details

KAJIAN IMPLEMENTASI BIM (BUILDING INFORMATION MODELING) DI INDONESIA BERDASARKAN PERSPEKTIF PELAKSANA KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PROYEK KONTRAKTOR BUMN)

Oleh   Aditya Pratama [25019080]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Puti Farida Marzuki;Rani Gayatri Kusumawardhani P., S.T., M.Sc., Ph.D.;Eliza Rosmaya Puri, S.T., M.T., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTSL - Teknik Sipil
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek :
Kata Kunci : BIM (Building Information Modelling), Kedewasaan Pemanfaatan Fungsi BIM, Fasilitas Penunjang, Hambatan Implementasi, Identifikasi kondisi Implementasi BIM, Kondisi implementasi BIM Negara Lain, Roadmap Implementasi BIM, Aplikasi BIM, Project Delivery, BIM Engineer
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2021-02-22 11:15:15

BIM (Building Information Modeling) adalah simulasi proyek berupa model 3D yang terdiri dari komponen proyek yang terhubung dengan semua informasi terkait perencanaan, desain, konstruksi, dan operasional pada sebuah proyek. BIM yang terintegrasi adalah salah satu teknologi di masa depan yang mempunyai kemungkinan terjadi yang besar, disertai dengan dampak yang terbesar jika dibandingkan dengan teknologi-teknologi lain. Namun adopsi dari penerapan BIM masih tergolong lambat jika dibandingkan dengan yang telah diantisipasi. Maka dari itu perlu diketahui kondisi implementasi BIM, agar diketahui arah penggunaan dan perkembangan BIM di Indonesia yang lebih jelas. Penerapan BIM yang optimal didasari dari kelengkapan penerapan dua hal utama, yaitu kedewasaan pemanfaatan fungsi dari BIM dan implementasi fasilitas penunjang. Dengan mengetahui kedua hal tersebut, maka dapat digambarkan kondisi penerapan BIM di Indonesia saat ini. 9 Fungsi utama dari BIM yang dapat dimanfaatkan adalah sebagai berikut: Clash Detection, Constructability, Analysis, Time & Cost Estimation, Integration, Quantity Take-Off, Element Based Models, Collaboration & Team Building, dan Communication. Semakin lengkap fungsi BIM yang sudah dimanfaatkan, maka semakin maju dan berkembang BIM yang sudah diterapkan. Maka dari itu, untuk menentukan kondisi dari BIM di Indonesia, salah satu faktor yang dapat dilihat adalah sejauh mana kedewasaan pemanfaatan fungsi dari BIM sudah dilaksanakan. Untuk dapat menjadi dewasa dalam kedewasaaan pemanfaatan fungsi dari BIM secara lengkap dan optimal, dibutuhkan proses yang bertahap seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini dikarenakan dalam penerapannya, dibutuhkan persiapan dari fasilitas, serta dibutuhkan penyesuaian perubahan metode, dari metode tradisional ke metode yang paling terbaru. Penerapan BIM yang baik hingga dapat dimanfaatkan seluruh fungsinya sangat didukung oleh fasilitas penunjangnya. Fasilitas penunjang ini yang menentukan perkembangan dari BIM. Hal ini dikarenakan untuk mengembangkannya dipengaruhi oleh baik dan buruknya implementasi dari fasilitas penunjang. Terdapat 3 kriteria utama fasilitas penunjang, yaitu adalah: Technology, Process, dan Policy. Technology mencakup kedalam Software, Hardware, dan Network. Process mencakup kedalam Leadership, Infrastructure, Human Resource, dan Product & Services. Policy mencakup kedalam Contractual, Regulatory, dan Preparatory. Implementasi fasilitas penunjang yang lengkap dapat mempengaruhi perkembangan dan kedewasaan pemanfaatan fungsi dari BIM menjadi lebih baik. Hambatan dalam implementasi fasilitas penunjang ini merupakan sumber masalah yang perlu diselesaikan agar fasilitas dapat terimplementasi dengan baik. Hambatan penting untuk diidentifikasi sebagai bahan evaluasi dari terhambatnya implementasi fasilitas. Bentuk masalah tersebut dapat berupa hambatan yang membuat suatu fasilitas belum terimplementasi. Setelah mengidentifikasi kondisi BIM di Indonesia saat ini, perlu dilakukan identifikasi kondisi BIM di negara lain. Maksud dari identifikasi ini adalah agar dapat membandingkan kemajuan di Indonesia dengan negara lain. Selain menjadi pembanding, kondisi di negara lain juga dapat menjadi masukan untuk arah kemajuan implementasi atau penerapan BIM di Indonesia. Untuk itu, negara yang dijadikan acuan merupakan negara-negara yang lebih maju dalam penerapan BIM dibandingkan Indonesia. Sehingga perkembangan BIM di negara-negara tersebut dapat menjadi best practice untuk di Indonesia sebagai pelaksanaan penerapan BIM yang benar atau paling efektif. Hasil dari identifikasi kondisi BIM di Indonesia saat ini dan negara lain yang lebih maju digunakan untuk penentuan arah perjalanan dari pengembangan BIM. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan di tahap sebelumnya, penentuan tersebut dapat dilakukan dengan baik. Penentuan yang dimaksud adalah potensi dan usulan pengembangan dikemudian hari. Potensi dan usulan pengembangan digunakan sebagai pedoman pengambilan keputusan terbaik untuk kemajuan BIM di Indonesia dan dapat digunakan untuk membuat Roadmap Implementasi BIM di Indonesia. Penggunaan BIM mayoritas sudah dimanfaatkan pada fase proyek: Konstruksi, Desain, dan Perencanaan. Sedangkan kedewasaan pemanfaatan fungsi BIM yang sudah dirasakan secara dominan adalah terkait dengan: Collaboration Team Building, Communication, dan Clash Detection. Faktor yang menghambat Implementasi BIM di Indonesia paling berpengaruh terkait dengan Aturan, yang terdiri dari kondisi Persiapan, Regulasi, dan Kontrak. Sedangkan terkait dengan penggunaan aplikasi BIM yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah: REVIT, Navisworks, dan BIM 360. Perlu diadakan pembuatan aturan atau regulasi terkait dengan aplikasi-aplikasi yang memang banyak digunakan oleh pelaksana konstruksi. Potensi pengembangan implementasi BIM di Indonesia dituangkan kedalam 8 Usulan potensi pengembangan, yang dibagi kedalam implementasi Jangka Pendek (1-2 tahun), Jangka Menengah (3-4 tahun), dan Jangka Panjang (>5 Tahun). Penggunaan BIM pada proyek konstruksi mempunyai potensi untuk dapat mengembangkan sistem Project Delivery yang diterapkan, dari sistem yang tradisional DBB (Design-Bid-Build) menjadi DB (Design-Build). Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa penggunaan kontrak yang bersifat DBB dan DB sudah sama besar, yang artinya pada penelitian ini dapat dilihat bahwa penggunaan BIM dalam proyek mungkin sudah dapat memfasilitasi terlaksananya proyek yang menggunakan DB. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Proyek Kontraktor BUMN, keterlibatan BIM Engineer sudah menjadi sebuah hal yang wajib dalam pelaksanaan sebuah proyek yang memanfaatkan BIM, dan dengan pemanfaatan BIM Engineer dengan platform BIM, Project Delivery yang bersifat DB akan lebih mudah untuk diwujudkan.