Article Details

INTERGENERATIONAL TRANSMISSION MASYARAKAT ADAT PADA SISTEM PERTANIAN DALAM RANGKA PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS: KASEPUHAN CIPTAGELAR, KAB. SUKABUMI)

Oleh   Nur Azizah [15416020]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ir. Teti Armiati Argo, MES, Ph.D.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SAPPK - Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek :
Kata Kunci : kearifan lokal, masyarakat adat, keberlanjutan budaya, intergenerational transmission
Sumber :
Staf Input/Edit : Yoninur Almira  
File : 7 file
Tanggal Input : 2020-10-01 09:59:22

Indonesia dengan karakteristik yang heterogen memiliki ribuan kelompok etnis dan sub etnis yang tersebar di seluruh negeri. Bersamaan, kelompok etnis dan sub etnis dilengkapi juga oleh kebudayaan sebagai kekayaan intelektual dan kultural Indonesia. Pengakuan dan perlindungan masyarakat adat, kebudayaan, dan hak adatnya sudah banyak tercantum dalam peraturan perundangan di Indonesia. Meskipun pengakuan dan perlindungan sudah dilakukan secara legal, tidak ada jaminan masyarakat adat dan kebudayaannya akan tetap eksis. Tidak hanya akan kehilangan budaya sebagai indentitas bangsa, hilangnya masyarakat adat dan kebudayaan, hak adat yang telah dijamin negara pun dapat menjadi sia-sia dan beresiko disalahgunakan. Maka untuk mengantisipasi hal ini perlu dilakukan intergenerational transmission kebudayaan pada masyarakat adat dan generasi penerusnya. Hilangnya budaya juga didorong dengan tekanan perubahan akibat globalisasi. Kecenderungan generasi muda untuk meninggalkan budaya lokal pun turut menjadi pertimbangan penting dilakukannya intergenerational transmission kebudayaan. Melalui analisis deskriptif kualitatif, diketahui Kasepuhan Ciptagelar sebagai masyarakat adat yang terekspos oleh globalisasi telah mengadopsi budaya modern pada kehidupan sehari-harinya. Kehadiran globalisasi telah menyebabkan terjadinya hibridisasi kebudayaan pada Kasepuhan Ciptagelar. Masih memegang teguh kearifan lokalnya di tengah globalisasi, menurut Kasepuhan regenerasi kebudayan merupakan hal yang wajib dilakukan untuk menjaga eksistensi mereka. Dengan begitu, adopsi globalisasi yang dilakukan tidak serta menghilangkan kebudayaan dan identitas mereka sebagai masyarakat adat. Regenerasi dilakukan sebagai upaya penciptaan replikasi budaya pada generasi penerus. Meskipun belum sepenuhnya tercapai replikasi sempurna, pewarisan budaya sebagai lifelong learning, menunjukkan indikasi penyempurnaan replikasi di kemudian hari.