Article Details

PERANCANGAN INTERIOR PUSAT KESEHATAN MATA UNTUK KAMPANYE DONOR MATA

Oleh   Mohammad Tommy Hidayat [17316047]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Arsaika Widasati, S.Ds., M.Ds.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FSRD - Desain Interior
Fakultas : Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Subjek :
Kata Kunci : Fasilitas kesehatan, pusat kesehatan, gangguan penglihatan, kebutaan, donor mata, kampanye donor mata
Sumber :
Staf Input/Edit : Noor Pujiati.,S.Sos  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-09-30 19:41:39

Generic placeholder image
2020 TA PP MOHAMMAD TOMMY HIDAYA 1.pdf)u

Terbatas
» ITB


Gangguan penglihatan merupakan suatu kondisi ketidakmampuan mata manusia melihat dengan normal dari yang merupakan gangguan ringan hingga berujung pada kebutaan. Potensi penduduk Indonesia mengalami gangguan penglihatan sangatlah tinggi, prevalensi kebutaan di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 3.099.346 jiwa dari total 200 juta penduduk dan terus bertambah seiring berjalanya waktu. Dengan berbagai isu permasalahan tersebut gangguan penglihatan yang tadinya dikategorikan sebagai permasalahan medis kini telah bergeser menjadi permasalahan sosial. Dari berbagai penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan, dominasi tertinggi gangguan di Indonesia disebabkan oleh katarak, gangguan refraksi dan glaukoma, dari jenis penyakit tersebut mayoritas merupakan kategori gangguan penglihatan yang dapat dicegah dan diobati secara medis, artinya penyakit tersebut bukan merupakan bawaan lahir dan kecerobohan penyandanglah merupakan faktor utama penyebab terjadinya gangguan penglihatan. Selain itu dalam survei dan studi kasus penulis juga menemukan isu lain berupa kurangnya donor kornea lokal, yang berdampak pada berkurangnya kesejahteraan penyandangnya lantaran terganggu produktivitas kerjanya. Adapun alasan utama dari tingginya angka penyandang gangguan penglihatan kebutaan dikarenakan tidak mengetahui menderita katarak dan tidak tahu bisa disembuhkan sebesar (43,5% di Papua Barat, 44,4% NTT, 26,8% Bali dan 41,3% pada area Jawa Tengah), biaya (36,6% Maluku, 40,5% NTB, 31,5% Jawa Timur, 31,9% Jawa Barat, 33,3% Sumatra Barat dan 33,3% Sumatra Utara), merasa tidak perlu dioperasi (Sulawesi Selatan 49,7%) dan terakhir alasan takut dioperasi sebesar 30% dari penduduk Jakarta. Berbeda dengan gangguan penglihatan, pada kasus minimnya jumlah pendonor kornea lokal disebabkan oleh masih awamnya istilah donor mata bagi masyarakat di Indonesia, dalam keberjalanannya juga angka pembatalan donor mata sangatlah tinggi dengan berbagai faktor sepeti kepercayaan, budaya dan kurangnya keinginan untuk membantu sesama. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masih banyak masyarakat umum yang tidak peka akan pentingnya menjaga kesehatan mata dan ii minimnya informasi seputar kesehatan mata di tengah kesibukannya. Merespons dari studi kasus tersebut fasilitas yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan tersebut merupakan fasilitas komersial dengan tipologi berupa pusat kesehatan yang basis kegiatannya berpusat pada kolaborasi antara kegiatan medis dan sosial. Tujuan dari fasilitas ini antara lain mengajak dan mengedukasi masyarakat agar lebih tahu mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata dan secara komersial mengampanyekan kegiatan donor mata, memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang kesehatan dengan menciptakan sebuah fasilitas kesehatan berbasis sosial dan medis, meningkatkan produktivitas masyarakat dengan mengurangi jumlah penyandang gangguan penglihatan, mewujudkan fasilitas ruang dengan lingkungan hidup yang menunjang kebutuhan fisik, psikis dan citra dari fasilitas kesehatan yang ramah dan ringan. Proyek ini merupakan proyek desain interior dengan status diajukan dan dikelola oleh swasta, beralamatkan pada Jl. Cicendo No.2 Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40171, Perancangan interior seluas 2.847 m2 akan mencoba hadir dengan fasilitas kesehatan mata sekunder, yang menitik beratkan pada tindakan pencegahan melalui edukasi dan promosi. Fasilitas akan mengusung konsep “social engagement” yang mana aspek perancangan akan didasarkan pada ide bagaimana membujuk perhatian pengunjung untuk mengunjungi fasilitas baik melalui program fasilitas, layanan dan desain interior. Tema dari perancangan ini akan berusaha mewujudkan desain interior yang mampu menarik pengunjung dengan atmosfer desain yang tidak memberikan tekanan melalui konsep bentuk, elemen ruang, warna dan material. Isu desain universal pun turut dihadirkan guna mendukung nilai daya guna penyandang disabilitas dan sekaligus menjadikan fasilitas interior dengan target pengunjung yang luas.