Article Details

ANALISIS MANAJEMEN GALERI PADA GRIYA SENI POPO ISKANDAR

Oleh   Eka andriyana [27018002]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Nuning Yanti Damayanti, Dipl.Art.;Dr. Ira Adriati, S.Sn., M.Sn.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FSRD - Seni Rupa Murni
Fakultas : Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Subjek :
Kata Kunci : GSPI, galeri, PAM, Popo Iskandar
Sumber :
Staf Input/Edit : Noor Pujiati.,S.Sos  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-09-30 10:49:03

Griya Seni Popo Iskandar (GSPI) merupakan salah satu galeri di Bandung yang sudah bertahan selama 40 tahun. Melalui tulisan ini, akan menganalisis sistem manajemen galeri yang mengubah format menjadi Griya Seni Popo Iskandar. Penelitian ini dibatasi pada periode 2016-2019, dengan pertimbangan dalam periode tersebut kegiatan pameran di GSPI memperlihatkan freukensi yang tinggi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teori teori manajemen seni oleh Giep Hagoort yang berhubungan dengan strategi, struktur, kepemimpinan, budaya organisasi dan fungsi. Penelitian ini juga menggunakan teori medan sosial seni oleh Hans Van Maanen yang berhubungan dengan aesthetic production, audiens dan means (PAM). Berdasarkan aesthetic production yaitu seniman yang berpameran di GSPI berasal dari mahasiswa dan seniman dari masyarakat umum. Seniman yang sering berpameran adalah seniman dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), selanjutnya dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Universitas Maranatha, dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Seniman di GSPI juga memamerkan karya yang beragam (fleksibel) dan di dominasi oleh karya kontemporer. Di samping itu GSPI memamerkan karya Popo Iskandar sebagai daya tarik bagi pengunjung. Audiens yang mengapresiasi karya di GPI berasal dari berbagai segmen, kolektor, akademisi, curator, dan pengunjung umum. Terdapat beragam tingkat pengetahuan mereka terhadap kesenirupaan. Berdasarkan means yang berkaitan dengan fsilitas GSPI, letak GSPI tidak berada di jalan utama sehingga menjadi salah satu kendala bagi pengunjung. Interior GSPI sendiri tidak terfokus pada gaya arsitektur tertentu, pengaturan tata letak masih memberikan kesan bangunan rumah. Melalui pemaparan di atas, manajemen GSPI yang dikelola oleh keluarga dan meminimalisir staf manajemen mengakibatkan penumpukan kerja pada Kurator. Perlu dilakukan evaluasi penambahan staf agar manajemen galeri dapat menajdi optimal. Berdasarkan analisis PAM pihak manajemen perlu memfokuskan target audiens yang dibidik, sehingga GSPI memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya dengan mempertegas sebagai galeri Pendidikan. Hal ini sesuai dengan kondisi saat ini dan di sisi lain Popo Iskandar memang seorang pendidik. Karya yang dipamerkan dapat saja difokuskan pada karya-karya kontemporer sehingga menjadi sejalan dengan perkembangan Pendidikan seni saat ini. Fakor terakhir yang berkaitan dengan means adalah memperbaiki interior maupun eksterior GSPI menjadi satu gaya yang menyatu. Hal tersebut akan mempertegas karakter yang ingin disampaikan. Pihak manajemen perlu lebih kreatif dalam menjaring audiens mendatangi GSPI, salah satunya dengan mengaktifkan café yang tersedia dan menata menjadi tempat yang nyaman serta layak ditampilkan di media social.