Article Details

PENGEMBANGAN PENILAIAN RISIKO PENGELOLAAN LIMBAH INFEKSIUS RUMAH SAKIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS (FMEA) STUDI KASUS RUMAH SAKIT DAERAH BANDUNG

Oleh   Novi Fitria [35315005]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri;Ir. Indah Rachmatiah Siti Salami, M.Sc., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : FTSL - Teknik Lingkungan
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek :
Kata Kunci : limbah infeksius, sistem fungsional, failure mode, risk priority number dan instrumen penilaian risiko.
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-06-29 23:36:59

Limbah infeksius rumah sakit telah menjadi isu penting karena berpotensi dan berisiko memaparkan penyakit baik terhadap pasien, pekerja rumah sakit, dan masyarakat yang tinggal di sekitar rumah sakit. Penilaian risiko dalam sistem pengelolaan limbah infeksius dibagi menjadi dua metode yaitu (1) analisis risiko secara kualitatif yang mengidentifikasi risiko secara deskriptif, (2) analisis risiko secara kuantitatif yang mengidentifikasikan risiko dengan menggunakan perhitungan untuk mendapatkan prioritisasi risikonya mulai dari proses pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan hingga proses disposal. Saat ini, di Indonesia peraturan yang mengatur tata cara penanganan limbah B3 dari kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan telah tertuang pada Permen LHK. p.56/2015, namun studi yang komprehensif untuk mengevaluasi implementasinya dan hubungannya dengan penilaian risiko belum terkaji secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kesesuaian pengelolaan limbah infeksius rumah sakit terhadap peraturan yang berlaku serta mengembangkan penilaian risiko dengan pendekatan metode FMEA dalam sistem pengelolaan limbah infeksius rumah sakit. Penelitian dilaksanakan di 7 rumah sakit daerah Bandung. Penelitian ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu tahap ke-1 adalah mengestimasi timbulan, proporsi limbah infeksius dan mengidentifikasi faktor yang mempengaruhinya serta mengobservasi kondisi eksisting pengelolaan limbah infeksius rumah sakit. Tahap ke-2 adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi pengelolaan limbah infeksius rumah sakit terhadap peraturan yang berlaku serta membandingkan dan mengevaluasi pengelolaan limbah infeksius antara negara berkembang dengan negara maju. Tahap ke-3 adalah mengidentifikasi kegagalan proses pengelolaan limbah infeksius yang berpotensi menimbulkan risiko dan menilai risiko dengan pendekatkan metode FMEA. Tahap ke-4 dilanjutkan dengan pengembangan usulan (framework) penilaian risiko pengelolaan limbah infeksius yang terintegrasi mencakup aspek kebijakan atau peraturan serta aspek teknis operasional, sehingga dapat dilakukan prioritisasi risiko dan tindakan rekomendasinya. Penelitian tahap ke-1 melalui direct sampling didapatkan estimasi timbulan limbah infeksius dari 7 rumah sakit adalah 317,1 kg/hari dengan proporsi limbah infeksius 30,4%. Timbulan limbah infeksius di fasilitas rawat inap adalah 45±39,5kg/hari; 0,4±0,2kg/TT/hari dan 0,7±0,5kg/occ.TT/hari. Timbulan dan proporsi limbah infeksius dipengaruhi secara signifikan oleh tipe rumah sakit. Rumah sakit tipe C memberikan timbulan limbah infeksius yang tertinggi secara signifikan dibandingkan dengan rumah sakit tipe A , B dan D. Teridentifikasi bahwa timbulan limbah infeksius pada rawat inap tidak linier terhadap tipe rumah sakit, namun lebih dipengaruhi oleh tindakan medis yang dilakukan pada pasien. Tingginya timbulan dan proporsi limbah infeksius di wilayah studi diakibatkan pewadahan limbah noninfeksius yang disatukan dengan limbah infeksius di ruang rawat inap. Penelitian tahap ke-2 berfokus pada persentase kesesuaian pengelolaan limbah infeksius rumah sakit berdasarkan EPA/1992 dan Permen LHK.p56/2015. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar ceklist. Rata-rata % kesesuaian pengelolaan limbah infeksius dari 7 rumah sakit adalah berturut -turut 57% dan 59%. Sedangkan di Radboud UMC memberikan % kesesuaian pengelolaan limbah infeksius rumah sakit sebesar 97% berdasarkan EPA/1992 dan 90% berdasarkan Permen LHK p.56/2015. Perbedaan persentase dikarenakan terdapat perbedaan regulasi di bagian pemilahan dan SOP penguburan limbah infeksius. Radboud UMC memilah dan mengumpulkan limbah infeksius pada kontainer padat serta tidak mengubur limbah infeksusnya. Kesesuaian pengelolaan limbah infeksius di daerah Bandung dipengaruhi oleh tipe rumah sakit, status akreditasi dan status petugas kebersihan dengan p value