Article Details

PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK DAN ANALISIS KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA DESAIN AKHIR LERENG DINDING SAMPING TAMBANG TERBUKA DI KECAMATAN DAMAI, KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR

Oleh   Nizar Lanang Adhyananda [12016042]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Analisis Kestabilan Lereng, Metode Kesetimbangan Batas, Peta Geologi Teknik.
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-06-29 21:34:57

Aktivitas di tambang terbuka batubara di Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur akan terus beroperasi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, dengan kondisi geologi teknik yang ada pada saat ini, desain akhir lereng dinding samping tambang terbuka ini belum mencapai kondisi optimum karena kemiringannya dibuat sama dari ujung ke ujung. Maka, desain akhir lereng dinding samping tambang terbuka dapat dioptimasi untuk mencapai hasil produksi yang optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geologi teknik daerah penelitian dan mendapatkan desain akhir lereng dinding samping yang aman dan optimum dengan menggunakan metode kesetimbangan batas, yaitu dengan mencari bidang gelincir dengan faktor keamanan terkecil. Wilayah tambang terbuka di Kecamatan Damai terdiri atas lima satuan batuan/tanah, yaitu satuan batulempung 1, satuan batulempung 2, satuan batupasir, satuan tanah lapukan, dan satuan material rombakan. Wilayah ini memiliki jurus relatif utara-selatan dan kemiringan berkisar antara 10° – 20°. Terdapat ketidakselarasan menyudut yang memisahkan satuan batulempung 2 dengan satuan batupasir. Terdapat dua sesar naik, yaitu sesar naik 1 dan sesar naik 2 yang memiliki kedudukan berturut-turut N255°E/40°NW dan N240°E/40°NW. Erosi dan longsoran ditemukan sebagai proses permukaan yang bekerja pada daerah penelitian. Akibat kuat geser yang relatif rendah, batupasir dari satuan batupasir (c=30 kPa, ?=27,25°) dan batulempung dari satuan batulempung 2 (c=262 kPa, ?=13,45°) dapat menjadi ancaman untuk aktivitas penambangan, terutama saat kedua material ini menjadi lereng timbunan. Desain akhir lereng samping harus diubah agar memiliki kondisi yang aman dan optimum, yaitu memiliki kemiringan yang paling curam namun masih memenuhi kriteria faktor keamanan minimum dan probabilitas keruntuhan maksimum sesuai standar, baik dalam kondisi statis maupun kondisi dinamis. Lereng pada penampang A dan B harus dilandaikan hingga memiliki sudut berturut-turut 24° dan 30° untuk mencapai kriteria standar, sedangkan lereng pada penampang C, D, E, dan F dapat dimaksimalkan hingga memiliki sudut berturut-turut 35°, 59°, 81°, dan 63° untuk mendapatkan cadangan batubara yang lebih banyak.