Article Details

STUDI SEISMISITAS INDONESIA BAGIAN TIMUR DAN TOMOGRAFI ZONA TRANSISI BUSUR SUNDA-BANDA

Oleh   Pepen Supendi [32317003]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si.;Prof. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D.;Dr. Ir. Chalid Idham Abdullah;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : FTTM - Teknik Geofisika
Fakultas : Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
Subjek : Engineering & allied operations
Kata Kunci : Seismisitas, Indonesia bagian timur, tomografi, zona transisi busur Sunda-Banda.
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-06-23 14:37:41

Indonesia bagian timur terletak di wilayah tektonik sangat kompleks yang dihasilkan dari tumbukan lempeng Australia dengan busur Banda, serta interaksi lempeng Pasifik dengan lempeng Filipina. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seismisitas di wilayah Indonesia bagian timur berdasarkan relokasi hiposenter gempabumi menggunakan model kecepatan gelombang seismik 3-D, khususnya untuk gempabumi Lombok, Palu, dan Mamasa tahun 2018; untuk mengetahui struktur kecepatan gelombang P di Zona Transisi Busur Sunda-Banda (ZTBSB) berdasarkan tomografi waktu tempuh yang dapat menjelaskan kondisi tektonik pada zona tersebut, terutama terkait penyebab perbedaan produk gunungapi aktif di ZTBSB yang lebih banyak mengandung bahan continental dibandingkan di busur Sunda. Proses relokasi hiposenter dilakukan dengan metode teleseismic double-difference yang menggabungkan fasa waktu tiba gelombang P dan S dari stasiun dengan jarak lokal, regional, dan teleseismik dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan International Seismological Centre (ISC) untuk periode April 2009 sampai November 2018. Hasil relokasi hiposenter memberikan pandangan yang lebih baik tentang seismisitas di Indonesia bagian timur selama periode penelitian, mempertajam lokasi hiposenter, dan interpretasi fitur seismogenik di zona transisi busur Sunda-Banda, busur Banda, Zona Tumbukan Laut Maluku, Sulawesi, dan Papua. Serangkaian gempa Lombok pada bulan Juli-Agustus 2018 menunjukan bahwa gempa ini disebabkan oleh branch-fault dari fold-thrust belt, dimulai oleh foreshock Mw 6.4 (28 Juli 2018), kemudian diikuti mainshock di kedua sisi pada rupture area yang berbeda: Gempa Mw 7.0 (5 Agustus 2018) merambat ke arah barat Lombok, sedangkan gempa Mw 6.9 (19 Agustus 2018) merambat ke arah timur. Gempa Palu (Sulawesi Tengah) Mw 7.5 (28 September 2018) terjadi di sepanjang Sesar Palu-Koro, mengisi seismic gap gempa Mw? 6.0 sejak tahun1900. Umumnya, distribusi gempa susulannya berlokasi di sebelah timur Sesar Palu-Koro, mengindikasikan bahwa sesar ini memiliki dipping ke arah timur. Sekitar 30 hari sejak gempa utama Palu, terjadi gempa swarm di Mamasa (Sulawesi Barat), pola seismisitas hasil relokasi dan mekanisme fokus menunjukan bahwa gempa-gempa ini disebabkan oleh sesar normal sepanjang ~50 km dari utara ke selatan dengan sudut dip ~45° ke arah timur. Pada zona tranisisi busur Sunda-Banda menggunakan waveform dari 30 stasiun seismik temporal jaringan YS tahun 2014-2016 yang diperoleh dari IRIS Data Management Center, 576 hiposenter telah ditentukan menggunakan Hypoellipse, kemudian 415 direlokasi menggunakan HypoDD. Perhitungan tomografi seismik waktu tempuh menggunakan simulPS dari data ini menghasilkan tomogram kecepatan gelombang P yang dapat menjelaskan beberapa struktur penting di daerah ini, terutama untuk kedalaman sampai 200 km. Di utara pulau Flores tercitrakan anomali kecepatan tinggi pada kedalaman 20 km yang kemungkinan berasosiasi dengan fold-thrust belt. Subduksi litosfer samudera yang berkaitan dengan konvergensi Australia dan Sundaland, tercitrakan sebagai zona kecepatan tinggi yang memanjang hingga kedalaman ~200 km. Selain itu tercitrakan dua zona kecepatan rendah yang berbeda, satu tepat di atas slab, yang kemungkinan berasosiasi dengan zona partial melting, dan satu lagi di kisaran kedalaman 0-40 km, yang kemungkinan berupa ruang magma yang berasosiasi dengan gunungapi aktif di daerah ini. Zona kecepatan tinggi yang menunjam ke arah utara membagi dua anomali kecepatan rendah yang diinterpretasikan sebagai continental microplate yang kemungkinan turut mengkontaminasi pasokan magma di bawah gunungapi aktif di kepulauan Flores yang menyebabkan gunung api tersebut banyak mengandung bahan continental.