Article Details

FAKTOR PENGONTROL VARIASI MUSIMAN KELIMPAHAN ISOTOP UAP AIR STABIL DI ATMOSFER BENUA MARITIM

Oleh   Triyono [12812022]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Rusmawan Suwarman, S.Si, M.T.
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Meteorologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek : Geology, hydrology & meteorology
Kata Kunci : Variasi musiman HDO; Faktor pengontrol variasi musiman; Benua maritim Indonesia
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti   Ena Sukmana
File : 7 file
Tanggal Input : 2020-04-22 14:03:37

Generic placeholder image

COVER Triyono

PUBLIC

Generic placeholder image

BAB 1 Triyono

PUBLIC

Generic placeholder image
BAB 2 Triyono

Terbatas
» ITB

Generic placeholder image
BAB 3 Triyono

Terbatas
» ITB

Generic placeholder image
BAB 4 Triyono

Terbatas
» ITB

Generic placeholder image

BAB 5 Triyono

PUBLIC


Isotop uap air stabil (HDO) telah diketahui memiliki variabilitas spasial dan temporal yang besar dan dapat merespon variabilitas musiman sirkulasi atmosfer. Wilayah benua maritim Indonesia diketahui memiliki variasi musiman sirkulasi atmosfer yang sebagian besar memiliki puncak pada DJF dan JJA. Maka, dilakukan penelitian faktor pengontrol yang mempengaruhi secara musiman kelimpahan HDO di wilayah benua maritim Indonesia. Variasi musiman HDO dilihat dari anomali persebarannya pada dua musim DJF dan JJA. Konsentrasi HDO kemudian dikorelasikan dengan forcing variable pada Isotopic Circulation Model (ICM) untuk melihat pengaruhnya terhadap konsentrasi musiman HDO. Variabel yang dikorelasikan dengan konsentrasi HDO antara lain evaporasi, presipitasi, dan precipitable water, serta dibandingkan secara visual dengan moisture transport. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis didapatkan bahwa curah hujan dan transport kelembapan berpengaruh terhadap variasi musiman kelimpahan HDO di beberapa wilayah benua maritim Indonesia baik pada DJF maupun JJA. Sedangkan evaporasi terlihat pengaruhnya di hampir seluruh wilayah pada JJA. Namun masih ada beberapa wilayah anomali yang belum dapat dijelaskan dengan pengaruh variabel-variabel di atas.