Article Details

GEOLOGI DAN INTERAKSI AIRTANAH-AIR PERMUKAAN DAS CITARUM DAERAH KECAMATAN MAJALAYA-IBUN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT

Oleh   Fabio Anatra Rahmana Effendi [12015057]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Agus Mochamad Ramdhan, S.T., M.T., Ph.D.;Dr. Rusmawan Suwarman, S.Si., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Majalaya, Ibun, GSWER, SWAT-MODFLOW, influen, efluen
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-03-19 17:04:51

Studi geologi dan hidrogeologi dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum pada Kecamatan Majalaya dan Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Maksud dari penelitian ini adalah memahami kondisi geologi dan menganalisis kondisi geologi serta hidrogeologi daerah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui interaksi antara air tanah dan air permukaan secara kualitatif dan kuantitatif. Metode Penelitian yang digunakan meliputi observasi geologi dan hidrogeologi lapangan, analisis data cuaca, analisis data tata guna lahan, analisis data jenis tanah, analisis data debit air sungai, serta pemodelan hidrologi air sungai dan hidrogeologi airtanah. Daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3 satuan geomorfologi, yaitu Satuan Dataran Intervolkanik Majalaya, Satuan Kaki Lereng Gunungapi Cilutung, dan Satuan Kerucut Gunungapi Jawa-Pangkalan. Secara stratigrafi, daerah penelitian terdiri atas 3 satuan tidak resmi, yakni (dari tua ke muda) Gumuk Gunung Pangkalan yang terdiri dari Satuan Lava Gunung Pangkalan (Pl), Gumuk Gunung Cilutung yang terdiri dari Satuan Breksi Aliran Piroklastik Gunung Cilutung (Ca) dan Satuan Lava Gunung Cilutung (Cl), serta Endapan Aluvial. Struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian adalah Sesar Menganan Turun Cikaro. Interaksi air permukaan dan airtanah pada daerah penelitian pada umumnya efluen, namun pada hilir sungai terdapat interaksi influen. Dari hasil pemodelan menggunakan SWAT-MODFLOW, pada musim kemarau groundwater surface water exchange rates paling tinggi bernilai -1305 m3/hari (efluen) dan paling rendah bernilai -4331 m3/hari (efluen), sedangkan pada musim hujan paling tinggi bernilai -276 m3/hari (efluen) dan paling rendah bernilai -9451 m3/hari (efluen). Berdasarkan parameter fisika dan pH air sungai dan airtanah dari 39 titik pengukuran, terdapat dua titik yang tergolong tidak memenuhi pH untuk kualitas air minum dan untuk air bersih untuk keperluan higiene sanitasi berdasarkan standar dari PERMENKES.