Article Details

GEOLOGI, KARAKTERISTIK, DAN GENESA BAUKSIT LATERIT DAERAH MEMPAWAH, KALIMANTAN BARAT

Oleh   Deni Mildan [22016312]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Andri Slamet Subandrio, Dipl.-Geol.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FITB - Teknik geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : bauksit, laterit, pelapukan
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-03-19 16:58:53

Bauksit merupakan hasil pelapukan batuan kaya alumina, namun rendah alkali, alkali tanah, dan silika. Selain itu, bauksit juga dapat terbentuk dari hasil pelapukan batuan metamorf, batuan sedimen, batuan karbonat, dan sebagai klastika. Mineralogi dan karakteristik endapan bauksit laterit yang beragam berkaitan erat dengan beberapa faktor utama, salah satunya tekstur dan komposisi batuan asalnya. Karakteristik dan genesa endapan bauksit akan berpengaruh terhadap proses pengolahan. Penanganan secara khusus terhadap bijih bauksit dengan karakteristik dan proses pembentukan tertentu akan membantu mengoptimalkan proses pengolahan sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Akan tetapi penelitian mengenai karakteristik dan genesa bauksit laterit masih minim dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik dan genesa endapan bauksit laterit. Penelitian dilakukan di daerah Mempawah, Kalimantan Barat sebagai salah satu daerah prospek bauksit di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode pemetaan geologi permukaan dan sumur uji. Pemetaan geologi permukaan bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi daerah penelitian dan mengidentifikasi jenis batuan asal bauksit laterit. Sumur uji dibuat untuk mengetahui distribusi vertikal bauksit laterit dan hubungannya dengan batuan asal. Analisis petrografi sebanyak 16 sampel dan mineragrafi sebanyak 12 sampel dilakukan terhadap batuan segar, alterit, dan bauksit untuk mengetahui mineralogi dan perubahan yang terjadi pada mineral sebagai hasil dari proses pelapukan. Analisis XRD sebanyak 2 sampel dilakukan untuk mendukung identifikasi mineralogi pada bauksit. Analisis XRF dilakukan terhadap 2 sampel batuan segar, 2 sampel alterit, dan 28 sampel bauksit sehingga diketahui pola pengayaan SiO2, Al2O3, dan Fe2O3 total.. Sampel bauksit diambil secara sistematis pada setiap dua meter interval ketebalan bauksit. Daerah penelitian terbagi menjadi 3 satuan litologi, yaitu satuan andesit, satuan granodiorit, dan satuan endapan aluvium. Andesit mengalami ubahan hidrotermal tipe propilitik. Struktur geologi sulit dijumpai langsung di lapangan sebagai akibat dari proses pelapukan yang intensif. Bauksit dijumpai pada satuan andesit dan satuan granodiorit. Bauksit andesit berwarna cokelat kemerahan, masif, konkresi berukuran bongkah hingga kerikil dalam matriks berukuran lempung, terdiri dari goethit, kaolinit, gibbsit, magnetit, dan hematit, dengan kandungan SiO2 2,518 - 31,237%, Al2O3 28,432 - 71,702%, dan Fe2O3 total 25,269 - 43,981%, terlateritisasi moderat hingga kuat. Bauksit satuan granodiorit berwarma merah kecokelatan, masif, konkresi berukuran bongkah hingga kerikil dalam matriks berukuran lempung, terdiri dari kaolonit, kuarsa, gibbsit, goethit, magnetit, dan hematit, dengan kandungan SiO2 28,849 - 54,255%, Al2O3 38,974 - 58,090 %, dan Fe2O3 6,504 - 19,041%, terlateritisasi lemah hingga moderat. Bauksit di daerah penelitian digolongkan ke dalam jenis orthobauxite. Bauksit terbentuk melalui proses bauksitisasi tidak langsung melalui pelindian mineral primer menjadi kaolinit kemudian menjadi gibbsit. SiO2 sebagai senyawa yang mudah bergerak mengalami penurunan akibat proses pelindian pada kondisi pH airtanah netral, sedangkan Al2O3 dan Fe2O3 tertinggal sebagai residual dan membentuk bauksit. Anomali pola pengayaan pada bauksit satuan andesit terjadi akibat perubahan fisikokimia pada batuan akibat ubahan hidrotermal. Selain itu, kontak air tanah, oksigen dan mineral sulfida selama proses pelapukan menyebabkan perubahan kondisi pH dan Eh airtanah sehingga unsur Fe, Al, dan logam berat lainnya bersifat mudah bergerak. Susunan laterit yang secara umum terdiri dari zona alterit, zona bauksit, dan zona latosol, serta conakryte yang menutupi bagian atas zona bauksit mengindikasikan iklim pembentukan bauksit cenderung tropis-lembap. Hematit yang merupakan produk lanjut pelapukan kimia yang memiliki lebihsedikit gugus OH dibandingkan goethit menandakan proses pelapukan lanjut pada kondisi iklim yang berubah menjadi lebih kering.