Article Details

ANALISIS PALEOKLIMAT KALA PLIOSEN DI PERAIRAN UTARA PAPUA, SAMUDRA PASIFIK TUGAS AKHIR B

Oleh   Reyvangga Bayukaradha Anindito [12015067]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Khoiril Anwar Maryunani, M.T.;Purna Sulastya Putra, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : ENSO, Paleoklimatologi, Pliosen, Samudra Pasifik
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-03-19 10:38:26

Perairan utara Papua merupakan salah satu pintu masuk ITF (Indonesian Through Flow) yang membawa massa air hangat menuju Samudra Hindia melalui Indonesia. Sebagai pintu masuk ITF ke Indonesia, perairan utara Papua juga dipengaruhi oleh ENSO (El Niño Southern Oscilation) yang merupakan pola iklim berulang yang melibatkan sirkulasi air dan perubahan suhu di Samudra Pasifik yang juga mempengaruhi iklim di Indonesia. Berdasarkan posisi dan peran perairan utara Papua, maka perlu diketahui bagaimana perubahan iklim dan oseanografi yang terjadi di daerah tersebut. Rekonstruksi paleoklimat dilakukan untuk mengetahui kondisi iklim dan pengaruh ENSO pada daerah penelitian selama Pliosen. Rekonstruksi paleoklimat dilakukan dengan menggunakan sampel sedimen yang merupakan data gravity core yang diperoleh melalui kegiatan Ekspedisi Nusa Manggala 2018 yang dilakukan oleh LIPI. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis granulometri, analisis X-Ray Fluoresence (XRF), dan analisis mikropaleontologi berupa foraminifera. Analisis besar butir dilakukan untuk mengetahui parameter statistik dari besar butir sedimen. Analisis XRF berguna untuk mengetahui unsur kimia yang terdapat pada sampel yang dapat digunakan sebagai proksi curah hujan. Analisis foraminifera dilakukan untuk mengetahui umur relatif, suhu permukaan laut (SST), dan termoklin. Rekonstruksi paleoklimat pada daerah penelitian menunjukkan perubahan intensitas ENSO dalam kurun waktu ~3,15-3,55 juta tahun yang lalu (Pliosen). Pada ~3,15-3,21 dan ~3,33-3,45 juta tahun yang lalu di dominasi oleh La Niña, sedangkan pada ~3,21-3,33 dan ~3,45-3,55 juta tahun yang lalu di dominasi oleh El Niño. Fenomena ENSO berperan terhadap fluktuasi iklim dan air laut di daerah penelitian. Intensitas ENSO yang menurun (dominasi La Niña) mengakibatkan terjadinya peningkatan suhu permukaan air laut dan peningkatan curah hujan pada daerah penelitian. Sedangkan intensitas ENSO yang meningkat (dominasi El Niño) mengakibatkan terjadinya penurunan suhu permukaan air laut dan penurunan curah hujan pada daerah penelitian.