Article Details

LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI MALAWA DAN REKONSTRUKSI PALEOKLIMAT DAERAH BARRU SULAWESI SELATAN BERDASARKAN PROKSI PALINOLOGI

Oleh   Zulfiah [22017010]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Khoiril Anwar Maryunani, M.T.;Dr.rer.nat. Maria Sekar Proborukmi, S.T., M.Sc.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FITB - Teknik geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Palinomorf, Formasi Malawa, lingkungan pengendapan, paleoklimat, PMI, IA, CoA-NLR
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-03-17 14:00:10

Pada Kala Eosen terjadi peristiwa tingginya temperatur secara signifikan dalam waktu singkat tetapi menyebabkan kepunahan massal dan pengaruhnya berlangsung lama, yaitu Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM) dan Eocene Thermal Maximum (ETM). Kondisi vegetasi pada peristiwa-peristiwa thermal maximum tersebut telah banyak dikaji di daerah lintang tengah dan tinggi, tetapi karakteristik vegetasi pada waktu itu di daerah lintang rendah, seperti di Indonesia, masih belum jelas. Daerah penelitian merupakan lintasan Padanglampe di daerah Tanete Riaja, Kabupaten Barru, yang terletak pada daerah lintang rendah dengan koordinat 040 30’ 25.26” LS dan 1190 41’ 43.43” BT. Penelitian dilakukan pada endapan sedimen dari Formasi Malawa yang berumur Eosen dan tersusun atas perselingan sedimen yang relatif berbutir halus hingga sedang dan dijumpai sisipan batubara. Pengambilan sampel batuan dilakukan secara sistematis dengan inteval 25 cm pada pengukuran penampang stratigrafi. Studi terdahulu telah mengidentifikasi lingkungan pengendapan Formasi Malawa berdasarkan kandungan makrofosil, namun penggunaan palinomorf belum dilakukan secara detail dan studi iklim Paleogen dengan palinomorf masih jarang di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan proksi palinologi sebagai pendekatan utama untuk mengetahui perubahan lingkungan pengendapan dan perubahan iklim di daerah penelitian. Metode yang digunakan untuk penentuan lingkungan pengendapan didasarkan atas Palinomorph Marine Index (PMI) dan kelimpahan palinomorf, sedangkan analisis paleoklimat dilakukan dengan menggunakan metode Coexistence Approach – Nearest Living Relative (CoA-NLR) dan Individual Approach (IA). Hasil analisis biostratigrafi, dari 36 sampel, menunjukkan adanya fosil penciri berupa Proxapertites operculatus, Palmaepollenites kutchensis, Florschuetzia trilobata, Retistephanocolpites williamsi, Cicatricosisporites eocenicus, Polygalacidites clarus, Spinizonocolpites echinatus, dan Beaupreadites matsukae. Berdasarkan analisis tersebut, lintasan Padanglampe berada pada Zona Proxapertites operculatus yang diendapkan pada Eosen Tengah - Eosen Akhir. Hasil analisis PMI menunjukkan lingkungan transisi dengan perubahan yang fluktuatif dari lingkungan freshwater/teresterial, hingga ke lingkungan marin yang dipengaruhi pasang-surut, sedangkan analisis kelimpahan palinomorf pada lintasan Padanglampe diendapkan pada lingkungan deltaik. Berdasarkan analisis CoA-NLR, lintasan Padanglampe memiliki Mean Annual Temperature (MAT) berkisar 15.60–25.50C dan Mean Annual Precipitation (MAP) berkisar 175–2750 mm. Hubungan nilai MAT dan MAP yang diplot pada diagram biomass menunjukan bahwa iklim lokal pada saat pengendapan adalah tropical seasonal forest dan hasil analisis IA menunjukkan iklim panas dan lembab. Secara global, iklim di daerah penelitian masih dipengaruhi oleh Eocene Thermal Maximum (ETM) pada kedalaman 10.5–6.5 m, sedangkan pada kedalaman 6.5–0 m terjadi fase pendinginan yang ditandai dengan kehadiran Podocarpus sp. dan Restionidites punctulosis. Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian-penelitian sebelumnya di Jawa dan Sulawesi, iklim yang berkembang di daerah lintang rendah, seperti Indonesia selama Eosen adalah iklim tropik dengan kondisi hangat dan lembab.

Cari