Article Details

MODEL PERLAKUAN BUDIDAYA GAHARU DENGAN PENDEKATAN BIOEKONOMI (KASUS: DI AREAL HUTAN RAKYAT DESA MEKARPAWITAN -KECAMATAN PASEH, KABUPATEN BANDUNG)

Oleh   Thifali Adzani [21317005]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Yooce Yustiana, M.Si.;Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SITH - Biomanajemen
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek :
Kata Kunci : Gaharu, bioekonomi, budidaya berkelanjutan
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-03-13 16:29:08

Gaharu adalah kayu yang mengandung resin yang bernilai tinggi. Pohon penghasil gaharu mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 1990 untuk tujuan konservasi dan menambah pemasukan bagi petani. Salah satu lokasi budidaya gaharu berada di Desa Mekarpawitan di Kecamatan Paseh pada lahan milik masyarakat sejak tahun 2010. Inokulasi merupakan bagian dari budidaya yang sangat penting untuk dilakukan untuk merangsang pembentukan gubal gaharu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perlakuan inokulasi yang cocok untuk diterapkan pada pohon gaharu, melakukan simulasi model budidaya untuk menentukan produksi gubal dan menentukan waktu panen serta upaya yang dapat memberikan keuntungan optimal agar usaha budidaya berkelanjutan. Eksperimen inokulasi menggunakan RAK faktorial dilakukan untuk mengetahui kombinasi perlakuan inokulasi yang cocok untuk merangsang pertumbuhan gubal antara Fusarium sp., pohon gaharu dan metode inokulasi. Produk diestimasi dengan mengukur luasan pembentukan gubal kemudian volume diproyeksikan untuk mengetahui hasil produk di masa depan. Kondisi biologis gaharu dilihat dari bagaimana pohon penghasil gaharu menerima perlakuan dan menghasilkan gubal. Bioekonomi digunakan sebagai alat pengambilan keputusan terhadap proses budidaya agar menjadi berkelanjutan dengan mempertimbangkan nilai lingkungan (laju erosi dan pengatur iklim mikro) dari areal hutan dan memperhatikan kondisi biologis pohon penghasil gaharu. Simulasi bioekonomi dilakukan dengan perbedaan discount factor, jumlah lubang inokulasi dan jumlah pohon. Perlakuan dosis inokulasi 2 cc dan inokulasi 15 lubang/pohon memperoleh skor pembentukan gaharu tertinggi (0,782cm2/bulan). Analisis bioekonomi menunjukan budidaya berkelanjutan hanya dengan menginokulasikan pohon sebanyak 5, 15 dan 15 lubang. Sampai dengan akhir proyeksi (bulan ke-43), nilai NPV dengan DF 7% adalah Rp. 42.983.894,- dan Rp.121.246.138,- dengan DF 17.5% pada pohon yang diinokulasi sebanyak 15 lubang/pohon.