Article Details

KAJIAN MEKANISME KERJA RIMPANG KUNYIT DAN UMBI LAPIS BAWANG PUTIH SERTA KOMBINASINYA SEBAGAI ANTIDIABETES

Oleh   Evi Sovia [30707002]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Elin Yulinah Sukandar;Dr. Joseph Iskendiarso Sigit;Dr. Lucy D.N. Sasongko;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek :
Kata Kunci : ekstrak kunyit, ekstrak bawang putih, kurkuminoid, S-metil sistein, , imunohistokimia, penghambat ?-glukosidase, tes toleransi insulin, antiglikasi
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-01-29 15:29:49

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia, berhubungan dengan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang abnormal dan menyebabkan komplikasi kronis termasuk mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati. Jika tidak dikelola dengan baik, DM dapat menyebabkan beberapa komplikasi dan hampir semua organ bisa terkena, karena itu DM mengakibatkan berbagai keluhan dan memiliki manifestasi klinis yang bervariasi. Pengendalian DM yang baik dapat mencegah keluhan akibat komplikasi yang ada. Pada saat ini DM ditangani dengan obat-obat sintetik yang umumnya lebih mahal dengan efek samping yang relatif lebih tinggi. Indonesia sangat kaya akan bahan obat yang berasal dari alam. Tumbuhan obat tersebut sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya penyembuhan dan pencegahan penyakit. Oleh karena itu pengembangan obat yang berasal dari bahan alam dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kondisi tersebut diatas. Penggunaan obat bahan alam pada umumnya dapat menekan biaya pengobatan yang relatif mahal. Beberapa diantaranya adalah bawang putih (Allium sativum L.) dan kunyit (Curcuma domestica Val.). Umbi lapis bawang putih dan rimpang kunyit telah digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan beberapa macam penyakit termasuk DM. Untuk membuktikan khasiat kunyit dan bawang putih sebagai antidiabetes perlu dilakukan penelitian mekanisme kerja kunyit dan bawang putih serta komponen aktif dari keduanya sebagai antidiabetes. Berdasarkan telaah pustaka dapat dihipotesiskan bahwa kunyit dan bawang putih serta komponen aktif dari keduanya (kurkuminoid dan S-metil sistein) mempengaruhi satu atau lebih dari mekanisme kerja antidiabetes yaitu pemicu sekresi insulin, penghambat ?-glukosidase, meningkatkan sensitivitas reseptor insulin dan penghambat glikasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini meliputi empat metode pendekatan yaitu metode analisis imunohistokimia, metode penghambat ?-glukosidase, metode toleransi insulin dan metode penghambatan reaksi glikasi albumin. Metode imunohistokimia digunakan sebagai metode pendekatan untuk mengetahui mekanisme kerja sebagai pemicu sekresi insulin. Dengan metode imunohistokimia dapat diamati perbaikan sel ?maupun sel ?pankreas mencit yang telah dirusak aloksan. Metode penghambat ?-glukosidase digunakan untuk mengetahui kemampuan ekstrak dan komponennya dalam menghambat pemecahan polisakarida menjadi monosakarida. Tes toleransi insulin digunakan untuk mengetahui peningkatan sensitivitas reseptor insulin pada model hewan resisten insulin dengan pemberian emulsi tinggi lemak. Metode antiglikasi digunakan sebagai pendekatan untuk mengetahui kemampuan ekstrak dan komponenya dalam menghambat terjadinya ikatan antara glukosa dengan albumin yang dapat menyebabkan pembentukan AGEs (Advanced Glycation End Products) yang berperan dalam terjadinya komplikasi DM. Kinetik inhibisi ditentukan dengan menggunakan kurva Eddie Hoftsee. Hasil analisis imunohistokimia sel ?menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih, kurkuminoid, dan S-metil sistein memperlihatkan perbaikan sel ?pankreas pada mencit yang telah diinduksi aloksan. Hasil analisis imunohistokimia sel ? menunjukkan bahwa kurkuminoid, S-metil sistein, kombinasi ekstrak kunyitbawang putih dan kombinasi kurkuminoid- S- metil sistein memperlihatkan perbaikan sel ?pankreas pada mencit yang telah diinduksi aloksan. Hasil penelitian penghambat ?-glukosidase menunjukkan bahwa baik ekstrak kunyit, ekstrak bawang putih maupun komponennya (kurkuminoid dan S- metil sistein) tidak menunjukkan aktivitas inhibisi terhadap enzim ?-glukosidase. Hasil penelitian metode toleransi insulin menunjukkan bahwa KITT (Konstanta Insulin Tolerance Test) hewan yang diberi ekstrak bawang putih (72,0 ± 8,4), kurkuminoid (61,4 ± 7,4) dan kombinasi kurkuminoid - S-metil sistein (68,8 ± 6,4) secara bermakna (p