Article Details

KEBERLANGSUNGAN Varanus komodoensis DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA DI TAMAN NASIONAL KOMODO

Oleh   Daningsih Sulaeman [30612011]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Djoko Tjahjono Iskandar;Dr. Achmad Sjarmidi;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SITH - Biologi
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek :
Kata Kunci : Kesintasan, ora, penurunan populasi, terancam punah, perubahan iklim, ekoturisme.
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 10 file
Tanggal Input : 2019-10-14 14:46:39

Generic placeholder image
BAB 1 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 2 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 3 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 4 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 5 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 6 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 7 Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
PUSTAKA Daningsih Sulaeman

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Serangkaian penelitian telah dilakukan untuk menjawab permasalahan keberlangsungan Varanus komodoensis dalam pengelolaan pariwisata di Taman Nasional Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penentuan habitat bersarang yang sesuai untuk komodo didekati dengan penghitungan jumlah sarang berbiak aktif yang berada pada ketinggian kurang dari 50 mdpl dan dianalisis dengan program pemetaan QGIS v2.18.15. Sarang berbiak aktif ditentukan dengan kehadiran sisa cangkang telur dan aktivitas induk betina. Dari hasil pengukuran lubang diperoleh diameter minimum yang dapat digunakan untuk bertelur oleh induk adalah 55 cm. Kepadatan sarang berbiak aktif di pulau Komodo adalah 0,38 sarang/km2 dan kepadatan sarang berbiak aktif di pulau Rinca adalah 0,25 sarang/km2. Analisis keberlangsungan hidup komodo dengan menggunakan laju reproduksi betina yang rendah mengkoreksi status populasi komodo yang sejak tahun 1996 ditetapkan oleh IUCN sebagai spesies berstatus rentan dengan kategori Vulnerable B1+2cde menjadi langka dengan kategori kritis (critically endangered) A3B1+2C2a(i)E. Luas potensi kawasan yang termasuk ke dalam habitat preferensi sarang berbiak (134,68 km2) masih jauh dari luas minimal yang diperlukan (526,3 km2) untuk memfasilitasi populasi komodo agar bertahan lebih dari 100 tahun ke depan. Diperoleh 29 sarang reproduksi aktif dan 119 lubang dengan ukuran diameter dan kedalaman berbeda-beda, dengan 6 sarang aktif dan 9 lubang aktif, kecilnya persentase lubang aktif (5%; rata-rata 4,1±1,3 lubang/kompleks sarang) dibandingkan lubang lainnya menjadi petunjuk bahwa komodo mengalami penurunan populasi dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini telah berhasil mengisolasi DNA genom komodo yang berasal dari chorioallantoic membrane cangkang telur yang mana DNA genom tersebut berikutnya potensial digunakan sebagai template untuk melakukan analisis genetik pada komodo dan spesies lainnya secara non-invasif. Persepsi pengunjung diperoleh dengan menanyakan 32 pertanyaan kepada 201 pengunjung menggunakan Skala Lickert dan metode MSI (Method of Successive Interval) dan dianalisis menggunakan PCA (Principal Component Analysis) disertai analisis lebih lanjut secara deskriptif. Enam komponen utama dari persepsi dan ekspektasi pengunjung adalah: pengelolaan (management), kesadaran pengunjung (awarenes), atraksi keindahan bawah laut (underwater attraction), keberadaan kehidupan liar di habitat alami (wildlife features), atraksi keindahan daratan (terrestrial attraction) dan pengalaman di alam (nature experience), yang mana wisatawan mengharapkan pengelolaan yang professional, memberikan manfaat langsung bagi penduduk lokal, serta efisien dan transparan dalam anggaran konservasi. Pengunjung akan ke TNK terutama untuk keunikan komodo dan kembali untuk keindahan bawah laut dan aktivitas snorkelling juga menyelam. Semua persepsi dan harapan pengunjung tersebut menunjukkan ciri destinasi ekowisata. TNK belum dikelola dengan prinsip ekowisata berdasarkan persepsi dan ekspektasi pengunjung sesuai juga dengan berbagai hasil evaluasi program wisata yang dilakukan oleh penelitian lain. Disimpulkan secara umum bahwa keberlangsungan populasi komodo dan aktivitas di TNK dapat terjadi jika dilakukan pemantauan populasi secara berkala dan akurat untuk penentuan statusnya serta penerapan prinsip ekowisata dengan tepat.