Article Details

KAJIAN FOTO ANAK-ANAK PADA STREET PHOTOGRAPHY VIVIAN MAIER : SEBUAH PENDEKATAN HERMENEUTIKA

Oleh   Yurif Setya Darmawan [27117014]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Yasraf Amir P., MA;Dr. Intan Rizky Mutiaz, M.Ds.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FSRD- Desain
Fakultas : Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Subjek :
Kata Kunci : foto anak, Instagram, hermeneutika, street photography, Vivian Maier
Sumber :
Staf Input/Edit : Noor Pujiati.,S.Sos  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-10-01 14:46:51

Fotografi anak-anak di era kini telah mengalami pergeseran makna. Ia tercerabut dari konteksnya dan lebih difungsikan sebagai objek ‘property’, konstruksi identitas bagi keluarga yang baik. Orang tua yang memotret anaknya lebih berorientasi untuk mendapatkan tanggapan positif dari orang lain melalui Instagram. Setidaknya hal tersebut telah menimbulkan paradigma baru berupa subjektivitas yang membentuk komposisi tertentu pada foto anak. Namun Vivian Maier agaknya berbeda karena ia berada pada konteks zaman yang berbeda. Maier diasumsikan berkarya di bidang fotografi dengan tanpa merendahkan anak. Vivivan Maier (1926-2009) sendiri adalah seorang pengasuh anak sekaligus fotografer. Dia tidak pernah memublikasikan karyanya (lebih dari 100.000 negatif foto) selama dia hidup sampai meninggal dunia pada tahun 2009. Peristiwa penemuan karya fotografi Vivian Maier menjadi sebuah temuan yang menarik bagi dunia fotografi ketika foto-foto dalam karya Vivian Maier ini tidak pernah terungkap selama hidupnya. Vivian Maier banyak mengabadikan momen-momen di sekitarnya, dan dia dianggap beraliran street photography dengan menyajikan teknik fotografi yang baik. Meskipun Vivian Maier dikenal sebaga fotografer kelas dunia setelah penemuan hasil karyanya pada tahun 2009 oleh John Maloof, hasil Foto-foto Vivian Maier belum banyak dijadikan topik penelitian sebagai wujud apresiasi. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasi makna dalam karya-karya fotografi Vivian Maier. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji secara mendalam keterkaitan antara bagaimana pemikiran Vivian Maier dengan karya fotografinya. Aspek pemikiran dapat diperoleh melalui metode deskripsi biografi dan psikoanalisis. Objek di dalam penelitian ini adalah karya fotografi Vivian Maier yang telah dipublikasi oleh John Maloof sebagai pemilik aset karya Vivian Maier saat ini. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif: memahami aspek estetis melalui kajian non teknis foto hingga tingkatan makna melalui perspektif hermeneutika. Pengumpulan data diperoleh baik melalui data digital dan teks-teks yang tersedia. Langkah pertama pengambilan data untuk menggali deskripsi kehidupan dan konteks zaman Vivian Maier. Tinjauan pustaka diperlukan demi menempatkan posisi penelitian Vivian Maier secara jelas. Langkah Kedua, mengumpulkan data berupa karya-karya fotografi Vivian Maier yang dipublikasi oleh John Mallof. Langkah ketiga adalah mengkaji data penciptaan karya tersebut. Analisis foto dapat ditinjau dari aspek non-teknis, yang lebih dekat dengan kajian formalisme. Hal tersebut lebih menekankan pada aspek visual daripada konteks naratif. Kajian aspek non teknis dalam fotografi meliputi, (1) komposisi, (2) format foto, (3) latar (foreground, midground dan background), (4) jarak pengambilan, (5) sudut pengambilan, (6) dimensi visual, (7) tone, dan (8) substansi. Adapun untuk point substansi foto dapat diperluas dalam aspek metafora dan simbol teks dengan aspek referensial biografi fotografer. Kelima, langkah terakhir merupakan proses interpretasi makna pada karya fotografi Vivian Maier menggunakan perspektif hermeneutika. Hermeneutika dijadikan sebuah pendekatan utama demi menemukan makna baru dalam proses rekontekstualisasi foto anak karya Vivian Maier. Melalui penelitian ini didapatkan sebuah makna baru diantaranya persoalan banalitas fotografi anak dalam konteks street photography, yang menyimpan keseriusan. Persoalan momen menjadi penting karena objek merupakan orang asing dan bukanlah seorang anak sendiri atau anak yang dekat dengan Maier. Sehingga momen tersebut tidak akan mungkin terulang dan tidak dapat direkonstruksi seperti pada pemotretan anak saat ini di Instagram. Persoalan berikutnya adalah persoalan konstruksi identitas yang dihadirkan dalam setiap foto yang berorientasi pembagian (sharing) di Instagram. Pada foto keluarga yang dibagikan di Instagram sebisa mungkin menghindari momen-momen yang berkesan “buruk” seperti kekerasan dan lain sebagainya. Justru Vivian Maier di dalam foto, menghadirkan kesan kekuatan, relasi kekuasaan, kekerasan ‘simbolik’ yang muncul. Hal tersebut dapat dimaknai sebagai “kejujuran” atas kondisi nyata di era pasca perang dunia ke II. Hal tersebut tercermin di dalam foto anak yang setidaknya menampilkan kondisi zaman, lingkungan dan kultur dimana ia hidup. Vivian Maier lebih menekankan kaidah-kaidah estetika di dalam fotografi, selain subject matter dalam proses pembingkaian (framing) juga melalui subjektivitas yang nampak dalam foto. Hal tersebut menjadi bukti nyata adanya perbedaan mendasar mengenai persoalan banalitas momen yang menjadi sebuah pergeseran paradigma dalam fotografi yang telah diuraian di atas. Pada akhirnya makna anak-anak dalam foto Maier adalah makna eksistensial yang mewakili kehadirannya yang dekat dengan dunia anak, representasi memori dari pengalaman-pengalaman pribadi selama mengasuh anak serta nilai kejujuran yang ia junjung dalam kaidah street photography.