Article Details

PENENTUAN FAKTOR BEBAN LINGKUNGAN DI LAUT JAWA DAN NATUNA UNTUK STRUKTUR UNBRACED MONOPOD MENGGUNAKAN METODE ANALISIS KEHANDALAN

Oleh   Larasati Devi Adani [25517301]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Paramashanti, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTSL - Teknik Kelautan
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek :
Kata Kunci : anjungan lepas pantai, unbraced monopod, analisis pushover, faktor beban lingkungan, indeks kehandalan
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 2 file
Tanggal Input : 2019-09-27 13:25:47

Proses kegiatan eksplorasi ladang minyak dan gas membutuhkan infrastruktur berupa struktur anjungan lepas pantai. Struktur ini perlu didesain optimum menggunakan standar desain yang berlaku agar dapat menahan beban peralatan dan lingkungan nantinya. Standar yang umum digunakan diterbitkan oleh American Petroleum Institute (API), yang mengadaptasi kondisi perairan di Teluk Meksiko. Kondisi perairan di Teluk Meksiko relatif lebih ekstrim dibandingkan di Indonesia sehingga butuh pengkajian ulang mengenai penerapan faktor beban lingkungan di Indonesia. Studi kasus dilakukan untuk struktur unbraced monopod yang terletak di Laut Jawa dan Laut Natuna dengan meninjau nilai Collapse Base Shear dan Indeks kehandalan (?). Struktur dimodelkan menggunakan standar API RP 2A WSD dan API RP 2A LRFD di bawah kondisi operasi dan badai, diasumsikan un-manned. Analisis collapse menggunakan pushover statik menghasilkan nilai RSR minimum dari seluruh struktur studi kasus memenuhi kriteria minimum 0.8. Proses analisis kehandalan menggunakan metode First Order Reliability Method II (FORM II). Nilai indeks kehandalan struktur (?) sangat kecil, jauh dari nilai indeks kehandalan target yang dikeluarkan oleh DNV sebesar 3.71. Namun hal tersebut tidak terjadi pada struktur yang didesain di Laut Jawa pada kondisi operasi, dimana nilai indeks kehandalan struktur (?) mencapai nilai 4.39. Adapun nilai faktor beban lingkungan yang didapatkan sebesar 6.31 untuk kondisi badai di Laut Jawa. Sedangkan pada Laut Natuna dipilih faktor beban lingkungan sebesar 5.61 untuk kondisi operasi dan 7.15 untuk kondisi badai.