Article Details

KAJIAN RESILIENSI MASYARAKAT YANG BERMUKIM KEMBALI DI DAERAH RAWAN BENCANA Studi Kasus: Masyarakat Korban Tsunami di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh

Oleh   Marlisa Rahmi [25217003]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ir. Indra Budiman Syamwil, M.Sc., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek : Architecture
Kata Kunci : adaptasi, bermukim, masyarakat, resiliensi, tsunami
Sumber :
Staf Input/Edit : Sandy Nugraha   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-09-13 16:05:01

Generic placeholder image
ABSTRAK Marlisa Rahmi

Terbatas
» ITB


Meskipun beberapa daerah di Indonesia telah dipetakan sebagai daerah rawan bencana dan bahkan ada yang sudah pernah mengalaminya, namun ternyata hal ini tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk tetap bermukim kembali di daerah bekas bencana tersebut. Salah satu contoh empiris yang masih bisa diamati sekarang ini adalah fenomena bermukim kembalinya masyarakat korban tsunami di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang dan strategi adaptasi yang dilakukan untuk tetap bertahan serta meninjau tindakan pemerintah terkait dengan bermukim kembalinya masyarakat di kawasan rawan bencana. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang ditulis secara statistik deskriptif dengan menampilkan tabel, grafik dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pengalaman bencana akan mempengaruhi alasan mereka untuk bermukim kembali di Kecamatan Meuraxa, serta juga turut membentuk pemahaman dan perilaku kesiapan mereka terhadap risiko bencana di masa yang akan datang. Ditemukan bahwa ada lima alasan utama yang menjadi faktor penyebab masyarakat kembali bermukim di Kecamatan Meuraxa ini, yakni karena faktor spiritual, rasa optimisme, pengaruh lingkungan, nilai-nilai biografis, dan kondisi ketergantungan (dependen). Selain itu, lamanya waktu yang telah mereka habiskan untuk bermukim di kawasan ini ternyata juga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap alasan mereka untuk memilih kembali lagi bermukim disana. Selanjutnya ada suatu strategi adaptasi yang secara aktif dilakukan oleh masyarakat yang bermukim kembali di daerah rawan tsunami ini sebagai suatu upaya mereka untuk tetap bisa resilien, yaitu melalui mekanisme adaptation by adjusment dengan melakukan beberapa penyesuaian terhadap fisik hunian dan lingkungannya. Kemudian terungkap juga bahwa partisipasi pemerintah dengan berbagai upaya baik dalam bentuk kebijakan dan pengelolaan terhadap warga yang bermukim di kawasan rawan tsunami, secara langsung juga membuat mereka merasa aman, merasa diperhatikan dan merasa tetap didukung oleh pemerintah untuk tetap bermukim di kawasan tersebut. Hasil dari kajian ini nantinya diharapkan dapat menjadi pengetahuan baru dalam pendidikan arsitektur serta menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengaplikasikan upaya mitigasi bagi masyarakat di daerah rawan bencana.