Article Details

PENGOLAHAN AWAL TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT PADA PRODUKSI XILITOL DENGAN MENGGUNAKAN JAMUR LAPUK PUTIH

Oleh   Muhamad Daris Al Husna [13015021]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Tjandra Setiadi, M.Eng., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FTI - Teknik Kimia
Fakultas : Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Subjek :
Kata Kunci : dekomposisi lignin, inhibisi enzim, jamur lapuk putih, pretreatment tandan kosong sawit, xilitol
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-09-12 15:33:52

Generic placeholder image
ABSTRAK Muhamad Daris Al Husna

Terbatas
» ITB


Seiring dengan produksi minyak sawit, limbah tandan kosong sawit (TKS) juga dihasilkan. Tandan kosong sawit memiliki kandungan hemiselosa cukup tinggi (22,03 – 35%). Xilan pada hemiselulosa dapat dihidrolisis menjadi xilosa dan lebih lanjut dapat diolah menjadi xilitol. Namun, xilosa tidak dapat terkonversi dengan sempurna akibat inhibisi enzim xilanase oleh inhibitor, yaitu lignin. Penelitian bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan pretreatment jamur lapuk putih terhadap perolehan xilosa hasil hidrolisis serta menentukan jamur lapuk putih dan waktu pertumbuhan yang terbaik dalam perolehan xilosa. Pretreatment biologis menggunakan P. chrysosporium dan Marasmius sp. di ziplock bag sebanyak 10gram TKS pada suhu ruang selama 30 hari (diukur setap 5 hari) dilanjutkan dengan pretreatment hidrotermal pada temperatur 160 oC selama 15 menit, 12% solid loading. Hidrolisis dengan enzim xilanase dilakukan selama 48 jam pada temperatur 30°C, 5% solid loading. Weight loss tertinggi terjadi di sampel inkubasi jamur P. chrysosporium di hari ke-20 sebesar 23,1 ± 3,31%.. Dengan metode NREL, didapatkan bahwa kandungan lignin awal pada TKS adalah sebesar 25,29%, setelah ditumbuhkan jamur lapuk putih selama 20 hari kandungan lignin di TKS menjadi sebesar 19,42% pada sampel P. chrysosporium dan 18,54% pada sampel inkubasi Marasmius sp. Terdapat penurunan lignin sebesar 23,20% pada sampel inkubasi P. chrysosporium serta 26,67% pada sampel Marasmius sp. Hasil analisis xilosa pada sampel hasil hidrolisis menunjukkan bahwa konsentrasi xilosa meningkat seiring lama waktu pretreatment biologis. Untuk sampel padatan terhidrolisis, konsentrasi tertinggi dicapai dengan penambahan pretreatment oleh Marasmius sp selama 30 hari dengan nilai mencapai 8,313 g/L. Perolehan tertinggi xilosa terhadap perolehan teoritis terjadi pada sampel inkubasi Marasmius sp. pada hari ke-30 yaitu 166,27 mg xilosa / g TKS yang dihidrolisis.