Article Details

KARAKTERISTIK ANOMALI, PERSEBARAN UNSUR, DAN ASOSIASI UNSUR DAERAH KOTA TIDORE KEPULAUAN, PROVINSI MALUKU UTARA

Oleh   Nisa Supriyanti [12014067]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Bambang Priadi;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Kota Tidore Kepulauan, Halmahera, Geokimia, Unsur, Anomali, Asosiasi Unsur, Analisis Univariat, Analisis Multivariat.
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 12 file
Tanggal Input : 2019-07-03 13:40:25

Generic placeholder image
ABSTRAK Nisa Supriyanti

Terbatas
» ITB

Generic placeholder image
COVER Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 1 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 2 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 3 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 4 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 5 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 5 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 5 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 5 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
BAB 6 Nisa Supriyanti

Generic placeholder image
PUSTAKA Nisa Supriyanti


Kota Tidore Kepulauan merupakan wilayah bagian barat Pulau Halmahera, Maluku Utara. Pulau Halmahera terletak di tengah kompleksitas pertemuan antara tiga lempeng besar yaitu, Lempeng Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Filipina. Kompleksitas sejarah geologi Pulau Halmahera membuat potensi sumberdaya alam Indonesia bagian timur ini menarik untuk diteliti sebagai wujud dari tahapan awal eksplorasi mineral melalui metode geokimia. Minimnya riset geologi Pulau Halmahera membuat penelitian ini begitu penting untuk menambah dan menyokong penelitian yang telah ada sebelumnya maupun setelahnya. 25 unsur kimia dari 100 contoh sedimen sungai aktif yang diolah dengan metode AAS dan ICP MS diinterpretasi dengan pendekatan statistika yang bertujuan untuk mengetahui anomali, persebaran unsur, asosiasi unsur, keprospekan unsur/mineral, serta kaitannya dengan sejarah geologi. Metode statisika yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis multivariat. Analisis univariat diterapkan untuk menentukan harga anomali. Analisis multivariat yang terdiri dari metode koefisien korelasi Pearson, metode persentil, dan metode pengelompokkan hierarki diterapkan untuk menentukan asosiasi unsur. Analisis petrografi dan mineragrafi dari 7 contoh batuan serta analisis mineralogi butir dari 20 contoh konsentrat dulang dilakukan untuk mendukung interpretasi sejarah geologi. Hasil perolehan harga anomali dari setiap unsur dibandingkan dengan referensi data kandungan unsur berdasarkan literatur. Secara umum 25 unsur yang diteliti memiliki konsentrasi lebih tinggi dibandingkan literatur, kecuali unsur nikel, krom, alkali dan alkali tanah. Anomali unsur tersebar merata di seluruh formasi dan lebih terkonsentrasi pada Formasi Bacan dan Formasi Weda. Analisis multivariat menghasilkan kecenderungan asosiasi yaitu; Zn-Fe-Cr-Co-(Ni)-(Mn), Cu-Pb-Au-Ag, Ce-Yb-Sm-Pr-Gd-(Bi), Li-K-Rb-Ba-(Na)-(La)-(Sr), dan Sc-Nd. Analisis mineralogi menunjukkan kelimpahan mineral oksida besi, khususnya magnetit (Fe3O4). Analisis petrografi dan mineragrafi menunjukkan bahwa Aluvium dan Endapan Pantai terdiri dari fragmen basal tersilisifikasi dan tuf tersilisifikasi, Formasi Weda terdiri dari batugamping dan pirit, serta Formasi Bacan terdiri dari tuf tersilisifikasi, magnetit, kalkopirit, dan pirit. Kemungkinan indikasi mineralisasi yang mengacu kepada pengayaan supergen Fe dan epitermal/porfiri terjadi di empat daerah sebagai berikut; Timur Maramake, Gitaislam, A. Tarawi, serta Bk. Lenggua dan Bk. Kuluting.