Article Details

ANALISIS KEANEKARAGAMAN GENETIK BROTOWALI (Tinospora crispa) DI PROVINSI MALUKU, MALUKU UTARA, SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGAH DAN SULAWESI TENGGARA MENGGUNAKAN PENANDA MOLEKULER SEQUENCE RELATED AMPLIFIED POLYMORPHISM (SRAP)

Oleh   Mentari Kasih [10615014]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Sony Suhandono, M.Sc., Ph.D.;Husna Nugrahapraja, S.Si., M.Si., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SITH - Biologi
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek : Life sciences ; biology
Kata Kunci : Brotowali, Tinospora crispa, SRAP, Isolasi geografi, Jarak genetik, Polimorfisme.
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-06-27 10:27:38

Brotowali (Tinospora crispa) merupakan jenis tanaman obat yang telah lama diketahui khasiatnya dan digunakan sebagai bahan baku obat tradional di berbagai daerah di Indonesia. Studi menunjukan terdapat berbagai senyawa aktif pada T. crispa yang memiliki aktivitas farmakologi. Tanaman ini telah banyak digunakan secara tradisional untuk pengobatan demam, rematik, hipertensi, malaria serta berbagai penyakit lainya termasuk penambah nafsu makan dan menjaga kebugaran tubuh. Analisis keanekaragaman jenis tanaman obat di Indonesia menjadi penting mengingat prospek pemanfaatan tanaman obat di Indonesia memiliki valuasi tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi keanekaragaman genetik dari T. crispa pada lima provinsi di Indonesia menggunakan penanda molekuler Sequences-Related Amplified Polymorphism (SRAP). Kombinasi primer SRAP digunakan untuk menganalisis keanekaragaman genetik dari 42 sampel T. crispa yang berasal dari provinsi Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. DNA diisolasi dari seluruh sampel berupa daun kering dengan menggunakan kit Isolasi DNA (GeneJET Plant Genomic DNA Purification Mini Kit). Analisis menggunakan kombinasi tiga primer SRAP (Me1-Em1, Me3-Em1 dan Me4-Em1) menghasilkan total 33 fragmen DNA dengan ukuran bervariasi dari 100-1400 pb. Persentase lokus polimorfik (PPL) sebesar 100% (33 lokus polimorfik). Kombinasi tiga primer SRAP tersebut dapat menjelaskan variasi genetik T. crispa dari kelima provinsi dengan rata-rata jumlah alel teramati (Na)=2.0000±0.0000, jumlah alel efektif (Ne)=1.2517±0.3221, keanekaragaman gen Nei (H)=0.1611±0.1618 dan Indeks Shanon (I)=0.2717±0.2117. Analisis kelompok berupa dendogram menggunakan metode Unweighted Pair Grup Method Using Aritmetic Method (UPGMA) serta analisis faktorial Principal Component Analysis (PCA) dibangun berdasarkan matriks similaritas, kedua analisis memberikan gambaran secara umum sampel dari provinsi yang sama berkelompok sesuai asal etnis meskipun terdapat sampel yang tidak berkelompok sesuai asalnya. Sampel dari Sulawesi Tengah terlihat lebih tersebar dibandingkan sampel dari provinsi lainya. Berdasarkan hasil ini, analisis variasi genetik T. crispa menggunakan SRAP memberikan persentase polimorfik yang tinggi sehingga sesuai untuk dijadikan marka berkaitan studi mengenai T. crispa.