Article Details

MODEL GEOBIOKIMIA PERMUKAAN LAPANGAN MIGAS BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DAN GEOLOGI DI CEKUNGAN SEDIMEN PRODUKSI HIDROKARBON JAWA BARAT UTARA

Oleh   Tri Muji Susantoro [35115001]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Ketut Wikantika, M.Eng., Ph.D.
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : FITB - Teknik Geodesi dan Geomatika
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : eksplorasi, migas, macroseepage, microseepage, mineral lempung, geobotany, oksida besi, suseptibilitas magnetik dan radon.
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-06-19 10:53:00

Indikasi adanya migas di bawah permukaan bumi dapat diidentifikasi dengan adanya rembesan migas, berupa macroseepage ataupun microseepage. Diperkirakan macroseepage terjadi pada 75% cekungan sedimen, dan microseepage terjadi pada hampir semua cekungan sedimen. Keberadaannya menjadi salah satu parameter penting untuk eksplorasi migas. Rembesan secara umum bermigrasi secara vertikal dan atau mendekati vertikal ke permukaan tanah dengan mekanisme yang meliputi efusi, difusi, pelarutan dan gelembung gas yang naik. Rembesan migas di permukaan mengakibatkan terjadinya perubahan mineral lempung, geobotany, oksida besi ferric dan ferrous, delta karbon dan peningkatan gas hidrokarbon dan non hidrokarbon dalam tanah. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian model geobiokimia permukaan lapangan migas berbasis penginderaan jauh dan geologi di lapangan Tugu Barat, cekungan Jawa Barat Utara. Tujuan penelitian ini adalah membuat algoritma untuk pemetaan distribusi mineral lempung total, smektit, kaolinit dan hematit serta model geobiokimia permukaan lapangan migas berdasarkan integrasi data penginderaan jauh dan geologi. Data penginderaan jauh yang digunakan Landsat 8 OLI/TIRS tanggal 25 September 2015, SRTM tahun 2010 dan DEM TerraSar tahun 2014. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi kajian literatur, pengumpulan data, pengolahan data penginderan jauh, analisis indeks vegetasi, mineral lempung dan oksida besi, survei lapangan untuk pengukuran fisik vegetasi, spektral vegetasi dan tanah, analisis komposisi mineral tanah, pembuatan algoritma mineral lempung total, smektit, kaolinit dan hematik, analisis model geobiokimia permukaan dan pelaporan. Pengolahan data penginderaan jauh meliputi koreksi radiometrik, koreksi geometrik, analisis indeks vegetasi, indeks mineral lempung, indeks oksida besi dan indeks hidrokarbon. Pengembangan algoritma untuk pemetaan distribusi mineral lempung total, smektit, kaolinit dan hematit dilakukan menggunakan metode best subsets dan analisis regresi untuk menghasilkan kombinasi saluran terbaik dan menghasilkan algoritma baru. Model geobiokimia dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perubahan kondisi permukaan akibat adanya migas di bawahnya sebagai manifestasi adanya microseepage. Hasil indeks mineral lempung, indeks vegetasi dan kondisi fisiknya, indeks oksida besi, indeks hidrokarbon, suseptibilitas magnetik dan radon menunjukkan adanya anomali permukaan di lapangan Tugu Barat yang membentuk model geobiokimia. Perubahan tersebut diindikasikan lebih intensif di tepi dibandingkan di tengah lapangan migas. Hal ini ditunjukkan dengan turunnya konsentrasi mineral lempung total, smektit, oksida besi ferric dan suseptibilitas magnetik; naiknya konsentrasi kaolinit, oksida besi ferrous dan radon, dan tingginya nilai indeks deteksi hidrokarbon di tepi lapangan migas. Analisis korelasi indeks mineral lempung dan indeks oksida besi dengan konsentrasi mineral penyusun tanah menunjukkan nilai koefisien determinasi yang rendah. Analisis metode best subset dilakukan untuk mengembangkan algoritma baru untuk pemetaan mineral-mineral penyusun tanah tersebut. Hasilnya pemetaan mineral mineral penyusun tanah dapat dirumuskan: (1) mineral lempung total = 0,658 – 32,09B1 + 49,3B2 + 20,01B3 + 4,45B4 + 4,09B6-7,73B7, (2) smektit = 0,611 – 35,66B1 + 50,5B2 – 13,46B3 + 5,29B6 – 9,00B7, (3) kaolinit = 0,068 + 4,26B2 -9,17B3 + 6,88B4 – 1,852B5, dan (4) hematit = 0,033 – 1,25B1 + 2,7B2 – 3,514B3 + 2,514B4 – 0,581B5, dengan B1, B2, B3, B4, B5, B6 dan B7 adalah saluran/kanal pada Landsat 8 OLI. Analisis model geobiokimia pada lapangan Tugu Barat dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Model vegetasi menunjukkan di tepi lapangan migas lebih terganggu oleh adanya microseepage dibandingkan dengan di tengahnya dengan ciri indeks vegetasi rendah, jumlah rumpun jarang dan tanaman kerdil. (2) Model mineral lempung menunjukkan konsentrasi total mineral lempung dan smektit di tepi lapangan lebih rendah dibandingkan dengan di tengah lapangan, dan konsentrasi kaolinit lebih tinggi di tepi lapangan migas dibandingkan dengan di tengahnya. (3) Model oksida besi ferric menunjukkan konsentrasi yang lebih rendah di tepi lapangan migas dibandingkan dengan di tengahnya. Pola oksida besi ferrous konsentrasi yang tinggi di tepi lapangan migas dan rendah di tengahnya. (4) Model suseptibilitas magnetik menunjukkan tinggi di tengah lapangan migas dan menurun di tepinya. (5) Model radon menunjukkan pola yang lebih tinggi konsentrasinya di tepi lapangan migas dibandingkan di tengah lapangan migas. Berdasarkan data bawah permukaan menunjukkan bahwa di tepi lapangan terdapat sesar yang menerus di sebelah timur dan selatan dari formasi Cibulakan Atas ke formasi Parigi. Hal ini diduga memicu berkembangnya microseepage, selain faktor chimney, vapor migration dan peningkatan retakan di tepi lapangan akibat ketidakkompakkan batuan. Model geobiokimia lapangan migas merupakan indikasi adanya migas di bawahnya. Hal ini dapat digunakan untuk menganalisis prospek yang akan dibor sehingga dapat meningkatkan faktor peluang geologi mengenai keberadaan migas yang terperangkap di prospek tersebut. Harapannya analisis model geobiokimia terhadap prospek dapat meningkatkan tingkat keberhasilan pemboran eksplorasi di Indonesia.