Article Details

PERANCANGAN ASPEK TEKNIS DAN OPERASIONAL JALUR REL SEBAGAI PENUNJANG PROYEK REVITALISASI JEMBATAN PERLINTASAN KERETA API KORIDOR KAYU TANAM – PADANG PANJANG – BATU TABAL

Oleh   Afdal Zikra Aulia [15013039]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ir. Harun Al Rasyid S. Lubis, M.Sc., Ph.D.
Jenis Koleksi : Jurnal elektronik
Penerbit : FTSL - Teknik Sipil
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek : Engineering of railroads & roads
Kata Kunci : Komponen Rel, Geometrik, Emplasemen, GAPEKA
Sumber :
Staf Input/Edit : hidayat   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-05-07 10:35:53

Jembatan Kereta Api Beton Prategang Koridor Batu Tabal – Padang Panjang – Kayu Tanam merupakan salah satu desain revitalisasi dari 14 jembatan perlintasan kereta api yang ada pada koridor tersebut. Mulanya jalur kereta api ini digunakan sebagai mobilisasi batu baru dari tambang Ombilin di Sawah Lunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang. Namun, pada desain revitalisasi jalur kereta api ini akan lebih difokuskan untuk melayani penumpang sehingga perlu ditingkatkan segi kekuatan dari aspek struktural dan aspek-aspek lainnya. Pada Tugas Akhir ini penulis akan melakukan perancangan dan analisis terkait aspek teknis maupun operasional yang meliputi perancangan komponen jalan rel, perancangan geometrik jalan rel dari lokasi jembatan ke stasiun Padang Panjang, analisis kapasitas serta peramalan jumlah pergerakan, perancangan lanskap stasiun, dan perencanaan sistem operasi/penjadwalan dalam skema GAPEKA. Perancangan aspek teknis dan operasional jalur rel bertujuan sebagai penunjang proyek revitalisasi jembatan perlintasan kereta api, koridor Kayu Tanam – Padang Panjang – Batu Tabal. Pada perancangan geometrik akan dirancang alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal dari trase rencana. Pada analisis kapasitas akan dihitung proyeksi penumpang pada tahun rencana serta akan dilakukan peramalan pergerakan terkait jumlah kereta api yang beroperasi pada masing-masing rute. Selanjutnya pada perancangan lanskap stasiun akan ditentukan panjang minimum dari emplasemen stasiun, kebutuhan minimum lajur, serta perencanaan wesel yang digunakan. Kemudian dari peramalan pergerakan, akan disusun GAPEKA sebagai sistem operasional. Pada perancangan ini, jalan rel di Sumatera Barat termasuk pada kelas jalan V yang menggunakan profil rel R 42 dengan sambungan baut antar rel panjang dan sambungan las antar rel standar. Bantalan rel yeng digunakan adalah bantalan beton, dengan penambat elastis tunggal jenis Pandrol. Balas yang digunakan setebal 25 cm untuk balas atas, dan 15 cm untuk balas bawah. Perancangan geometrik dilakukan pada koridor lokasi jembatan rencana menuju stasiun Padang Panjang dengan mengunakan software AutoCAD Civil 3D. Dari hasil perancangan pada alinyemen horizontal, direncanakan 2 tikungan dengan jari-jari lengkung 700 m dan 500 m. Selain itu untuk alinyemen vertikal direncanakan 3 kelandaian yakni: 17.68‰, 29.8‰, dan 0.8‰, dan 2 lengkung vertikal dengan masing-masing berjari-jari 25000 m dan 7000 m. Proyeksi penumpang pertahun akan menghasilkan kebutuhan jumlah kereta api yang hendak beroperasi dalm 1 hari kerja yaitu sekitar 10-12 rangkaian/hari, yang mana lebih sedikitdari kapasitas lintas jalur tersebut dengan nilai 16 rangkaian/hari. Pada perancangan emplasemen akan berpatokan pada rangkaian kereta terpanjang yang akan berhenti di stasiun ditambah dengan tolerasi panjang yang mana dihasilkan panjang minimum emplasemen sebesar 160 m. Untuk sistem operasi yang dirancang dalam skema GAPEKA, disusun 2 alternatif penjadwalan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.