Article Details

SIFAT MAGNETIK TUMBUHAN HIPERAKUMULATOR NIKEL DARI WILAYAH ULTRAMAFIK

Oleh   Abd Mujahid Hamdan [32313002]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Satria Bijaksana;Dr. Darharta Dahrin, MS;Aiyen Tjoa (UNTAD);
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : FTTM - Teknik Geofisika
Fakultas : Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
Subjek : Applied physics
Kata Kunci : tumbuhan hiperakumulator nikel, ultramafik, pengukuran magnetik, phytomining.
Sumber :
Staf Input/Edit : Devi Septia Nurul   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-03-20 07:21:09

Tumbuhan hiperakumulator nikel (Ni) adalah tumbuh-tumbuhan yang mampu menyerap Ni lebih dari 1.000 ?g/g di dalam biomassa keringnya. Tumbuhan ini dianggap memiliki potensi ekonomis dalam remediasi lingkungan dan pertambangan. Remediasi dengan menggunakan tumbuhan hiperakumulator disebut sebagai fitoremediasi, sedangkan penambangan dengan tumbuhan hiperakumulator disebut sebagai phytomining. Phytomining Ni dianggap sebagai metoda yang ramah lingkungan dan lebih ekonomis untuk diterapkan di wilayah ultramafik. Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan sebaran ultramafik yang relatif luas. Namun, jumlah spesies hiperakumulator Ni yang merupakan tumbuhan asli Indonesia masih sangat terbatas. Padahal, ketersediaan spesies yang cukup adalah salah satu faktor penentu keberhasilan phytomining. Oleh karena itu, identifikasi hiperakumulator Ni yang baru merupakan salah satu kebutuhan yang penting untuk dilakukan. Pengembangan metoda yang efisien diperlukan dalam rangka menunjang akselarasi teridentifikasinya spesies baru hiperakumulator Ni asli (native) Indonesia. Ni masuk ke dalam jaringan dalam bentuk kation Ni2+ dan terkelasi dengan kompleksi dengan biomolekul seperti malate dan histidine. Sementara itu, disamping kemampuannya menyerap Ni dalam jumlah yang ekstrim, tumbuhan hiperakumulator Ni juga memiliki kemampuan menyerap logam lain secara bersamaan. Di antara logam-logam yang diserap oleh tumbuhan hiperakumulator terdapat logam-logam yang diketahui memiliki sifat magnetik, seperti besi dan kobal. Oleh karena itu, metoda kemagnetan diduga dapat digunakan dalam mengidentifikasi tumbuhan hiperakumulator Ni. Namun, penerapan pengukuran magnetik belum pernah dilakukan pada tumbuhan hiperakumulator Ni, khususnya yang berasal dari daerah ultramafik. Padahal, metoda kemagnetan telah dianggap sebagai metoda yang cepat dan efisien untuk digunakan dalam menganalisa kehadiran mineral atau logam pada bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan metoda kemagnetan dalam mengidentifikasi tumbuhan hiperakumulator Ni. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahapan, yaitu: (i) karakterisasi magnetik tumbuhan hiperakumulator Ni dan (ii) identifikasi hiperakumulator Ni dengan menggunakan metoda kemagnetan. Spesies yang dikarakterisasi adalah Planchonella oxyhedra dan Rinorea bengalensis yang berasal dari Weda, Halmahera. Sebagai pembanding, karakterisasi magnetik juga dilakukan pada tumbuhan hiperakumulator Ni bukan asli Indonesia yang terdiri dari: Alyssum murale dan Alyssum corsicum yang ditumbuhkan di tanah laterit Sulawesi Selatan. Selain dari karakterisasi tumbuhan hiperakumulator Ni, juga dilakukan karakterisasi magnetik terhadap tumbuhan non hiperakumulator Ni sebagai pembanding. Untuk mengetahui konsentrasi Ni di dalam sampel dilakukan dengan analisa atomic absorption spectroscopy (AAS). Pengukuran-pengukuran tersebut didukung oleh analisa seperti X-ray diffraction (XRD), X-ray flouresence (XRF) dan scanning electron microscopy energy dispersion spectroscopy (SEMEDS). Tumbuhan hiperakumulator memiliki nilai suseptibilitas magnetik (?) positif, sementara non hiperakumulator memiliki nilai ? negatif. Nilai ? dari P. oxyhedra berada pada interval 12-21 (×10–9) m3/kg dengan rata-rata 17,83 ? 3,07 (×10–9) m3/kg, sementara nilai ? dari R. bengalensis berada pada interval 23-33 (× 10–9) m3/kg dengan rata-rata 30,16 ? 5,84 (× 10–9) m3/kg. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan hiperakumulator dan non hiperakumulator Ni dapat terbedakan dari nilai ?. P. oxyhedra dan R. bengalensis sementara A. murale dan A. corsicum tidak memiliki remanen magnetik. Melalui penggunaan sifat magnetik, ditemukan dua spesies hiperakumulator Ni yang baru, yakni Casearia halmaherensis dan Piper sp., dengan konsentrasi Ni masing-masing sebesar 2.546,0 ? 230,4 ?g/g dan 2745,4 ? 99.0 ?g/g. Hasil-hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metoda kemagnetan dapat digunakan sebagai metoda dalam mengidentifikasi tumbuhan hiperakumulator Ni. Diperlukan invesitigasi lanjutan untuk menguji efektivitas dan efisiensi metoda kemagnetan dalam mengidentifikasi tumbuhan hiperakumulator Ni yang berasal dari lingkungan tumbuh selain daerah ultramafik. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menginvestigasi sifat kemagnetan tumbuhan hiperakumulator Ni dan menggunakan metoda kemagnetan dalam mengidentifikasi hiperakumulator Ni yang baru.