Article Details

APLIKASI RESIN POLIURETAN UNTUK MENGATASI MASALAH KEPASIRAN PADA FORMASI RESERVOIR MINYAK BUMI YANG TIDAK TERKONSILIDASI

Oleh   Muhammad Ichsan Hakim [10509083]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. I Made Arcana, MS;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FMIPA - Kimia
Fakultas : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Subjek : Chemistry
Kata Kunci : kepasiran, poliuretan, minyak jarak, permeabilitas, compressive strength
Sumber :
Staf Input/Edit : Latifa Noor   Ena Sukmana
File : 8 file
Tanggal Input : 2019-02-12 08:38:31

Generic placeholder image
2013_TA_PP_MUHAMMAD_ICHSAN_HAKIM_1-COVER.pdf

Akses : Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2013_TA_PP_MUHAMMAD_ICHSAN_HAKIM_1-BAB1.pdf

Akses : Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2013_TA_PP_MUHAMMAD_ICHSAN_HAKIM_1-BAB2.pdf

Akses : Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2013_TA_PP_MUHAMMAD_ICHSAN_HAKIM_1-BAB3.pdf

Akses : Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2013_TA_PP_MUHAMMAD_ICHSAN_HAKIM_1-BAB4.pdf

Akses : Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2013_TA_PP_MUHAMMAD_ICHSAN_HAKIM_1-BAB5.pdf

Akses : Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Permasalahan kepasiran pada reservoir minyak bumi merupakan suatu masalah yang cukup serius dan dapat diatasi dengan menggunakan resin. Permasalahan kepasiran ini banyak terjadi pada formasi batuan yang terkonsolidasi buruk dan yang tidak terkonsolidasi. Berbagai polimer telah digunakan sebagai resin seperti resin epoksi dan juga salah satu polimer yang sedang dikembangkan yaitu poliuretan dengan bahan baku minyak jarak. Resin poliuretan diperoleh dengan mereaksikan minyak jarak atau asam risinoleat hasil hidrolisis minyak jarak sebagai sumber poliol dengan monomer diisosianat (MDI), dan penambahan air untuk memicu terbentuknya ikatan silang, sehingga poliuretan yang didapat lebih kaku (rigid). Reaksi polimerisasi ini dilakukan dalam pelarut kloroform dengan perbandingan 25% poliol , 25% MDI, 2% air, dan 48% kloroform. Karakterisasi poliuretan yang terbentuk dilakukan dengan analisis gugus fungsi dengan FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy), analisis swelling, dan analisis termal dengan Thermal Gravimetric Analysis (TGA). Selain itu resin epoksi sebagai resin komersial dengan komposisi 25% epoksi, 25% hardener (Trietilentetramina), dan 50% aseton digunakan sebagai resin pembanding. Resin tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam artificial unconsolidated core yang berasal dari pasir kuarsa dengan ukuran 20-35 mesh pada suhu 700C untuk merepresentasikan kondisi reservoir dengan formasi batuan yang tidak terkonsolidasi. Untuk mengetahui potensi resin tersebut dilakukan pengukuran sifat fisik dan mekanik core yang terbentuk melalui penentuan permeabilitas dan kuat tekan (compressive strength) core. Berdasarkan hasil percobaan pengurangan permeabilitas dan compressive strength yang terbaik dihasilkan dari hasil injeksi pada resin epoksi dengan curing time 16 jam yaitu dengan pengurangan permeabilitas 12,14% dan peningkatan compressive strength sebesar 1790,35 psi. Sedangkan pada resin poliuretan dari asam risinoleat dengan curing time 8 jam didapat nilai pengurangan permeabilitas sebesar 32,40% dan peningkatan compressive strength yang sangat kecil yaitu sebesar 42,06 psi. Untuk resin poliuretan dari minyak jarak didapatkan hasil yang cukup bagus pada curing time 16 jam dengan nilai pengurangan permeabilitas sebesar 6,85% dan peningkatan compressive strength sebesar 419,49 psi. Berdasarkan hasil tersebut resin poliuretan dari asam risinoleat masih belum layak sebagai resin alternatif dengan nilai peningkatan compressive strength yang sangat kecil, sementara resin poliuretan dari minyak jarak sangat berpotensi menjadi resin alternatif, namun perlu dilakukan optimasi lebih lanjut agar dapat bersaing dengan resin epoksi dan resin komersial lainnya.