Article Details

PENGEMBANGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR INTERAKSI HIDROFILIK UNTUK SKRINING DAN PEMISAHAN BEBERAPA SENYAWA DOPING DIURETIK DALAM URINE

Oleh   Iswandi [30712305]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Slamet Ibrahim Surantaatmadja;Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek :
Kata Kunci : Doping, Diuretika, Skrining, HILIC, Kromatografi Cair, Validasi Metode, Urine
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-02-08 10:02:38

Sekarang ini, penggunaan doping oleh para atlet meningkat baik dari jenis maupun jumlah obat. Para atlet biasanya menggunakan doping untuk meningkatkan kemampuan fisik dan psikis, baik menggunakan zat kimia dengan jumlah yang tak wajar atau dengan cara yang terlarang. Zat kimia yang digunakan sebagai doping memiliki efek farmakologi yang berbeda karena memiliki sifat fisikokimia yang berbeda sehingga diperlukan metode analisis untuk skrining dan identifikasi adanya penggunaan doping oleh atlet. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik efektifitas dan pengembangan metode skrining senyawa –senyawa doping dalam urine dengan menggunakan kolom hidrofilik untuk pemisahan senyawa yang polar. Penelitian ini juga dilakukan untuk mencari kondisi optimal dan melakukan validasi metode analisis senyawa –senyawa diuretik dalam urine secara kromatografi cair interaksi hidrofilik dengan menggunakan kolom Zic HILIC. Senyawa diuretik mempunyai koefisien partisi (log P) dan pKa yang berbeda – beda yang dapat dijadikan dasar dalam memilih metode analisa. Nilai koefisien partisi (log P) merupakan salah satu sifat fisika kimia yang penting untuk lipofilisitas suautu zat. Nilai log P dari senyawa diuretik berkisar (-0,3) –3,7 ini menunjukkan senyawa ini bersifat polar. Skrining senyawa diuretik dilakukan secara kromatografi cair menggunakan kolom Zic -HILIC dengan detector UV. Pengamatan untuk optimasi yang dilihat adalah kemampuan untuk memisahkan analit secara selektif melalui nilai waktu retensi (tR), faktor selektifitas (?) dan Resolusi (Rs) serta sensitifitas metode melalui penetapan batas deteksi (LOD). Kondisi optimum dengan komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 5 , 5 mM) dengan perbandingan (95 : 5), dengan laju alir 0,5 ml/menit untuk pemisahan campuran (furosemide –hidroklortiazid), (furosemide - indapamid), (spironolakton - bumetanid), (spironolakton - asam etakrinat) dan (bumetanid - indapamid). Dengan kondisi tersebut nilai resolusi untuk campuran (furosemid – hidroklortiazid), ( furosemid - indapamid ), ( spironolakton - bumetanid ), (spironolakton - asam etakrinat) dan (bumetanid –indapamid) berturut –turut 2,99 ; 3,37 ; 2,53 ; 2,86 dan 2,82. nilai LOD berturut –turut untuk furosemid, hidroklortiazid, indapamid, spironolakton, bumetanid dan asam etakrinat adalah 0,79 ; 0,58 ; 0,66 ; 0,79 ; 0,32 dan 0,71 ppm. Nilai LOQ berturut –turut untuk furosemid, hidroklortiazid, indapamid, spironolakton, bumetanid dan asam etakrinat adalah 2,40 ; 1,75 ; 2,00 ; 0,49 ; 0,97 dan 2,14 ppm. Kondisi optimum pemisahan campuran furosemid dan spironlakton didapat pada komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 5 , 5 mM) dengan perbandingan (90 : 10), dengan laju alir 0,5 ml/menit. Dengan kondisi tersebut didapat nilai resolusi 3,14. Nilai LOD berturut –turut untuk furosemid dan spironolakton adalah 0,79 dan 0,16 ppm. Nilai LOQ berturut –turut untuk furosemide dan spironolakton adalah 2,40 dan 0,49 ppm. Kondisi optimum pemisahan campuran hidroklortiazid, triamteren dan bendroflumetiazid) didapat pada komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 5, 5 mM) dengan perbandingan (90 : 10), dengan laju alir 0,5 ml/menit. Dengan kondisi tersebut didapat nilai resolusi = 3,75 dan 2,85. Pemisahan campuran bumetanid, indapamide dan spironolakton pada komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 5, 5 mM) dengan perbandingan (95 : 5), dengan laju alir 0,5 ml/menit. Dengan kondisi tersebut didapat nilai resolusi = 1,77 dan 4,00. Pemisahan campuran furosemid ; azetosolamid dan indapamid pada komposisi fase gerak asetonitril : larutan dapar amonium asetat (pH 5,0 ; 5,0 mM) dengan perbandingan (90 : 10) dan laju alir 0,75 mL/menit. Nilai resolusi yang didapat dengan kondisi tersebut adalah 1,86 dan 3,13. Nilai LOD berturut –turut hidroklortiazid, triamteren, bendoflumetiazid, bumetanid, indapamid, spironolakton, furosemid dan azetosolamid adalah 0,58 ; 1,05 ; 0,62 ; 0,32 ; 0,66 ; 0,16 ; 0,79 dan 0,66 ppm. Nilai LOQ berturut –turut hidroklortiazid, triamteren, bendoflumetiazid, bumetanid, indapamid, spironolakton, furosemid dan azetosolamid adalah adalah 1,75 ; 3,18 ; 1,88 ; 0,97 ; 2,00 ; 0,49 ; 2,40 ppm, dan 2,00 ppm. Kondisi optimum pemisahan campuran spironolakton, indapamide, bumetamid dan furosemid didapat komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 6,0 ; 10,0 mM) dengan perbandingan (95 : 5) dan laju alir 0,5 ml/menit Dengan kondisi tersebut didapat nilai resolusi 1,75 ; 5,43 dan 2,23. Untuk campuran furosemide, asetozolamid, indapamid dan hidroklortiazid didapat komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 5,0 ; 5,0 mM) dengan perbandingan (90 : 10) dan laju alir 0,5 ml/menit. Nilai resolusi yang didapat dengan kondisi tersebut adalah 3,00 ; 1,82 dan 2,77. Untuk campuran asam etakrinik, bendroflumetiazid, hidroklortiazid dan triamteren didapat komposisi fase gerak asetonitril : dapar amonium asetat (pH 6,0 ; 10,0 mM) dengan perbandingan (95 : 5) dan laju alir 1,0 ml/menit. Nilai resolusi yang didapat dengan kondisi tersebut adalah 3,75 ; 2,29 dan 3,91. Nilai LOD berturut- turut spironolakton, indapamid, bumetanid, furosemid, azetosolamid, hidroklortiazid, asam etakrinat, bendroflumetiazid dan triamtren adalah 0,16 ; 0,66 ; 0,32 ; 0,79 ; 0,47 ; 0,58 ; 0,71 ; 0,62 dan 1,05 ppm . Nilai LOQ berturut- turut 0,49 ; 2,00 ; 0,97 ; 2,40 ; 1,44 ; 1,75 ; 2,14 ; 1,88 dan 3,18 ppm. Kondisi campuran pemisahan 5 senyawa (asam etakrinik, spironolakton, indapamid, furosemid, dan bumetanide) didapat pada komposisi asetonitril : dapar amonium asetat (pH 5,0 ; 5,0 mM) dengan perbandingan (95 : 5) dan laju alir 0,5 ml/menit. Dengan kondisis tersebut didapat nilai resolusi adalah 1,25 ; 2,67 ; 3,20 dan 1,81. Nilai LOD berturut –turut adalah 0,71 ; 0,16 ; 0,66 ; 0,79 dan 0,32 ppm. Nilai LOQ berturut –turut adalah 2,14 ; 0,49 ; 2,00 ; 2,40 dan 0,97 ppm. Kondisi campuran pemisahan 6 senyawa (furosemid, indapamide, spironolakton, bendroflumethiazid, azetozolamid dan hidroklortiazid) didapat pada komposisi asetonitril : dapar amonium asetat (pH 6 ; 10,0 mM) dengan perbandingan (95 : 5) dan laju alir 0,5 ml/menit. Nilai resolusi yang didapat dengan kondisi tersebut adalah 1,18 ; 2,70 ; 0,80 ; 1,13 dan 0,85. Nilai LOD berturut –turut adalah 0,79 ; 0,66 ; 0,16 ; 0,62 ; 0,47 dan 0,58 ppm. Nilai LOQ berturut –turut adalah 2,40 ; 2,00 ; 0,49 ; 1,88 ; 1,44 dan 1,75 ppm. Aplikasi metode HILIC ke dalam sampel urin yang ditambahkan senyawa doping diuretik menggunakan kondisi terpilih menunjukkan selektifitas yang baik dengan urutan spironolakton, indapamid, bumetamid, furosemid, bendroflumetiazid, triamteren dan hidroklortiazid dengan resolusi > 1,5. Metode analisis yang dikembangkan telah memenuhi kriteria validasi dan dapat juga diaplikasikan untuk penetapan kadar senyawa doping diuretik.