Article Details

KAJIAN MEKANISME KERJA DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA (TEN.) V. STEENIS) SEBAGAI ANTIHIPERTENSI

Oleh   Afrillia Nuryanti Garmana [30712016]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Elin Yulinah Sukandar ; Prof. Dr. Irda Fidrianny ;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek : Pharmacology & therapeutics
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana   Ena Sukmana
File : 8 file
Tanggal Input : 2019-01-03 16:10:36

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular penyebab kematian utama ketiga di Indonesia dengan prevalensi sebesar 26,5%. Terapi hipertensi secara farmakologi dengan menggunakan obat antihipertensi dilakukan dalam jangka waktu lama sehingga beresiko menimbulkan efek samping. Untuk mencari obat yang lebih aman dan mempunyai khasiat antihipertensi, dapat digali potensi bahan alam, salah satu sumbernya yaitu tanaman binahong. Binahong memiliki banyak manfaat diantaranya dapat memperbaiki fungsi ginjal, mengobati diabetes, stroke, wasir, demam, sakit perut, radang, antimikroba, dan melancarkan peredaran darah. Binahong juga merupakan salah satu tanaman yang direkomendasikan untuk menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan mekanisme kerja ekstrak daun binahong dan fraksi aktifnya serta menentukan senyawa penanda pada fraksi aktif. Pengujian efek antihipertensi pada ekstrak etanol daun binahong (EEDB) dilakukan melalui pengujian efek diuretik dan saluretik serta pengujian antihipertensi pada model hewan yang diinduksi dengan adrenalin. Ekstrak kemudian difraksinasi sehingga dihasilkan tiga jenis fraksi yaitu fraksi n-heksana (FH), fraksi etil asetat (FE), dan fraksi air (FA). Pada ekstrak dan fraksi dilakukan pengujian efek antihipertensi pada model hewan hipertensi yang diinduksi deksametason. Kajian mekanisme antihipertensi lebih lanjut dilakukan melalui pengujian efek peningkatan kadar oksida nitrat (NO) secara in vivo; pengujian efek perintangan reseptor alfa, vasodilatasi melalui jalur NO, dan perintangan kanal kalsium secara ex vivo; serta pengujian efek inhibisi angiotensin converting enzyme (ACE) secara in vitro. Penentuan senyawa penanda dilakukan secara kromatografi lapis tipis (KLT) dengan membandingkan profil fraksi dengan senyawa pembanding. Pada pengujian efek diuretik dan saluretrik serta efek antihipertensi pada model hewan yang diinduksi adrenalin, digunakan EEDB 50, 100, dan 200 mg/kg bb. Pengujian efek diuretik dilakukan dengan metode Lipschitz yang dimodifikasi. EEDB 200 mg/kg bb menunjukkan efek diuretik yang berbeda bermakna terhadap kelompok kontrol negatif pada pengamatan 24 jam (p