Article Details

DETEKSI PROTEIN CD2AP PADA KERUSAKAN GINJAL MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI NaCl 4%

Oleh   Lia Septya [20616311]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ahmad Ridwan
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SITH - Biologi
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek : Life sciences ; biology
Kata Kunci : CD2AP, FSGS, hipertensi, kerusakan ginjal, kreatinin
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-01-03 11:14:14

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan permasalahan serius dengan prevalens dan kejadian gagal ginjal yang terus meningkat, prognosis yang buruk serta biaya yang tinggi. Pasien dengan kasus hipertensi memiliki progress terhadap manifestasi sindrom nephropati yang ditandai dengan adanya proteinuria. Deteksi terhadap peningkatan ekskresi protein diketahui sebagai konfirmasi adanya penyakit pada ginjal. CD2-associated protein (CD2AP) merupakan molekul protein yang terekspresi di ginjal pada bagian sel podosit. Kemunculan molekul protein ini pada urin ternyata konsisten dengan perubahan indeks fungsi ginjal pada sampel darah dan urin pasien gagal ginjal akut. Sedangkan pada histopatologis klinis, kerusakan ginjal dengan indikasi proteinuria ditandai dengan Focal Segmental Glomerulosklerosis (FSGS). Tujuan penelitian ini ialah mendeteksi protein CD2AP sebagai indikator dini kerusakan ginjal dan mengetahui konsentrasi protein CD2AP terhadap tahap kerusakan ginjal melalui tiga parameter utama yaitu kuantifikasi protein CD2AP urin dan serum kreatinin yang dikonfirmasi dengan histopatologis glomerulus. Penelitian melibatkan hewan model mencit (Mus musculus) jantan dari galur Swiss webster sebanyak 24 ekor yang terbagi menjadi 6 kelompok penelitian, yaitu tiga Kelompok Kontrol (KK) dan tiga Kelompok Perlakuan (KP) Hipertensi dengan induksi NaCl 4% setiap hari selama 2, 4 dan 6 minggu. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menentukan konsentrasi protein CD2AP menggunakan teknik Sandwich ELISA pada sampel urin dan kadar kreatinin pada serum menggunakan metode Jaffe diikuti analisis kualitatif berupa tampilan FSGS histopatologis ginjal dari tiap kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara tiap kelompok perlakuan hipertensi dan kelompok kontrol (P?0,05), sedangkan tiap kelompok perlakuan hipertensi menunjukkan perbedaan namun tidak signifikan (P?0,05). Pada uji serum kreatinin tidak menunjukkan perbedaan nyata (P?0,05) antara kelompok kontrol bila dibandingkan dengan nilai konsentrasi kreatinin kelompok perlakuan. Histopatologis ginjal menampilkan progress pembentukan FSGS pada minggu ke-4 hingga indikasi global sklerosis pada kelompok perlakuan minggu ke-6. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keberadaan protein CD2AP pada urin dapat dijadikan sebagai indikator dini kerusakan ginjal namun tidak dapat menunjukkan perbedaan signifikan pada tahap kerusakan ginjal.