Article Details

KOMUNITAS BAKTERI PENYEBAB KOROSI PADA BAJA KARBON ST 37 DI WADUK CIRATA

Oleh   Farah Nabila El Faidah [20616306]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Pingkan Aditiawati, MS
Jenis Koleksi : Anggota
Penerbit : SITH - Biologi
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek : Life sciences ; biology
Kata Kunci : Fe, IOB, Illumina Miseq, logam baja, SRB, waduk Cirata.
Sumber : -
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-01-02 13:41:03

Generic placeholder image
2018_TS_PP_FARAH_NABILA_EL_FAIDAH_1-ABSTRAK.pdf

Akses : Terbatas
» ITB


Korosi dapat mengurangi kekuatan logam dan menyebabkan kegagalan fungsi pada unit proses, secara ekonomi hal ini akan sangat merugikan. Korosi dapat disebabkan oleh faktor fisik, kimia maupun biologis atau dari peran mikroba. Mikroba yang paling banyak diketahui berperan dalam proses korosi merupakan bakteri pereduksi sulfat. Waduk Cirata merupakan waduk yang memiliki pembangkit listrik yang banyak menggunakan logam dalam unit sistemnya. Namun, kualitas air waduk semakin menurun, salah satunya disebabkan oleh meningkatnya jumlah keramba jaring apung. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh mikroba dalam proses biokorosi pada waduk Cirata, dan mengetahui laju korosi pada baja karbon secara langsung dalam skala laboratorium yang disebabkan oleh mikroba dengan menggunakan air waduk Cirata sebagai sumber inokulum. Baja karbon ST 37 diletakkan pada waduk Cirata pada kedalaman 0,3 meter dan 2 meter dari permukaan, dan di sampling setelah 4 bulan dan 8 bulan perendaman. Parameter fisika-kimia air yang diukur adalah pH, suhu, DO, konduktivitas, konsentrasi nitrat, nitrit, dan sulfat. Sampel air sebanyak 150 ml disaring menggunakan membran polikarbonat 0,22 ?m. Gen fungsional bakteri dianalisis dengan menggunakan qPCR, dengan gen 16S rRNA yang digunakan untuk menghitung total kelimpahan bakteri dan gen dsrA untuk menghitung kelimpahan bakteri pereduksi sulfat. Identifikasi diversitas bakteri dilakukan dengan menggunakan Illumina Miseq. Produk korosi yang terbentuk diamati dengan SEM-EDS dan FTIR. Pada percobaan skala laboratorium, plat baja karbon dimasukkan dalam botol vial yang berisi air waduk sebagai medium dan konsentrat inokulum. Kemudian dilakukan pengamatan, pembentukan biofilm pada baja dan pengukuran laju korosi setiap 2 minggu. Suhu, pH, dan DO pada 0,3 meter yakni (32,6oC; 7,1 dan 6,53 mg/l) lebih tinggi dibandingkan dengan 2 meter, namun konduktivitasnya cenderung tidak berbeda (230-232 S/m). Konsentrasi nitrat, nitrit dan sulfat relatif tidak berbeda pada kedua kedalaman. Kelimpahan total bakteri planktonik di waduk Cirata sekitar 105 - 106 salinan/ml dan kelimpahan bakteri biofilm sekitar 103 salinan/cm2 selama 8 bulan pengamatan. Kelimpahan bakteri pereduksi sulfat sangat rendah pada bakteri planktonik maupun biofilm yakni dibawah 10 salinan/ml. Bakteri yang paling dominan pada planktonik dan biofilm adalah Flavobacterium, Mycobacterium dan Fluviicola. Beberapa bakteri dominan lainnya banyak diketahui merupakan bakteri pembentuk biofilm. Pada biofilm teridentifikasi adanya kelompok bakteri pereduksi sulfat yakni Desulfovibrio dan kelompok bakteri pengoksidasi besi yakni Sediminibacterium. Laju korosi baja karbon setelah bulan ke-8 adalah 0,4 mm/tahun. Dari pengamatan SEM tampak beberapa sel bakteri yang menempel pada permukaan baja, dan produk korosi berbentuk heksagonal atau globular. Spektra FTIR menunjukkan adanya ikatan amida, asam hidroksil dan ikatan CH pada produk korosi. Pada percobaan skala laboratorium, kandungan sulfat menurun pada pengamatan 2 minggu hingga 4 minggu, kepadatan sel mencapai 107 koloni/ml, dan menunjukkan positif adanya bakteri pereduksi sulfat. Laju korosi pada logam baja di skala laboratorium adalah 0,12 mm/tahun. Faktor yang mempenagruhi peningkatan laju korosi adalah nitrat, dan total bakteri.