Article Details

KAJIAN PENERAPAN SISTEM PENGADAAN BERBASIS VENDOR MANAGED INVENTORY DI PT DIRGANTARA INDONESIA UNTUK PERISHABLE MATERIAL

Oleh   REDO NANDA PUTRA NIM : 94515001
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTI - Logistik
Fakultas : Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Subjek :
Kata Kunci : PERISHABLE INVENTORY, VENDOR MANAGED INVENTORY, PERMINTAAN BERSIFAT PROBABILISTIK
Sumber :
Staf Input/Edit : Dewi Supryati  
File : 1 file
Tanggal Input : 02 Jul 2018

PTDI (Indonesian Aerospace) memiliki permasalahan dalam proses pengadaan perishable material dengan permintaan yang bersifat probabilistik. Material ini dapat menjadi “rusak“ ketika terpapar kondisi lingkungan ekstrim (misal: temperatur) sehingga menyebabkan dilema dalam penentuan ukuran lot pemesanan material. Jika terlalu banyak diadakan maka pelayanan material menjadi maksimal namun menimbulkan ongkos simpan yang tinggi dan risiko material menjadi kadaluarsa sebelum digunakan; dan jika sebaliknya, maka tidak ada yang dibuang namun menyebabkan tersendatnya proses produksi. Kondisi diperparah dengan lead time pengadaan yang dapat melebihi umur material sehingga material yang tiba di pabrik sudah dalam kondisi yang tidak optimal. Oleh karena itu dibutuhkan sistem pengadaan baru yang dapat mengakomodasi kondisi-kondisi ini. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, PTDI disarankan menggunakan sistem pengadaan berbasis aliansi, yaitu VMI (Vendor Managed Inventory). VMI adalah pengalihan tanggung jawab proses pemesanan ulang dan manajemen inventori kepada pihak vendor. Sebagai timbal baliknya, pembeli berkomitmen untuk mengadakan dari satu vendor tersebut dalam jangka panjang, dan membuka akses terhadap jumlah permintaan yang mereka layani dan jumlah stok. Metode ini disarankan untuk membuat sistem pengadaan menjadi lebih responsif, di mana material dapat dikirim langsung oleh vendor begitu jumlah stok berada di bawah ambang minimal atau telah melewati periode waktu tertentu. Untuk mengimplementasi VMI, dibutuhkan perencanaan yang matang. Penelitian ini memfasilitasi kebutuhan rencana tersebut dengan menganalisis VMI dari dua sudut: akademik (prinsip dan optimasi kebijakan inventori dari model VMI) dan praktik (kiat perusahaan lain yang telah berhasil mengimplementasikan VMI). Hasilnya rencana implementasi usulan dirangkum dalam lima tahapan (1. Evaluasi Proses Bisnis; 2. Penentuan Target; 3. Perencanaan VMI; 4. Penyusunan Kontrak; 5. Perancangan Proses Bisnis), dan secara spesifik digunakan untuk studi kasus PTDI. Berdasarkan hasil simulasi Model Matematis VMI dua eselon, vendor mampu meningkatkan pemasukan dari PTDI sebanyak 55%, sementara PTDI mampu menghemat pengeluaran ongkos sebesar 48% dan perbaikan inventory turnover sebesar 137% dibandingkan praktik konvensional yang dikelola sendiri oleh PTDI. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk proses transisi menuju VMI adalah 32 minggu dengan melibatkan perwakilan dari pembeli dan vendor. Terakhir, ditawarkan dua metode integrasi sistem informasi antara pembeli dan vendor, yaitu pembangunan portal yang dikelola swadaya atau penggunaan Value Added Network yang dikelola oleh pihak ketiga.