Article Details

EVALUASI STRUKTURAL PERKERASAN LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE AASHTO 1993 DAN PROGRAM ELMOD 6 (Studi Kasus : Jalan Padalarang – Cisomang)

Oleh   FENNY ANGGRAINI (NIM 26911328)
Kontributor / Dosen Pembimbing : Pembimbing : Prof. Dr. Ir Bambang Sugeng S, DEA ; Dr. Eri Susanto Hariyadi, ST, MT
Jenis Koleksi : Anggota
Penerbit :
Fakultas :
Subjek :
Kata Kunci : Modulus, Structural Number, AASHTO 1993, Program ELMOD 6, Tebal Lapis Tambah ; Modulus, Structural Number, AASHTO 1993, ELMOD 6 Program, Overlay Thickness
Sumber :
Staf Input/Edit : hidayat  
File : 8 file
Tanggal Input : 2018-09-28 10:04:46

Evaluasi struktural dan fungsional dari suatu kondisi perkerasan diperlukan untuk menentukan program pemeliharaan yang tepat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja struktural perkerasan lentur pada ruas Padalarang-Cisomang dengan menggunakan Metoda AASHTO-1993 dan Program ELMOD-6. Pada metoda AASHTO-1993 nilai lendutan wakil dari D1 dan D6 dari survei FWD (Falling Weight Deflectometer) digunakan untuk menghitung nilai Modulus Resilien Tanah Dasar (Mr) dan Modulus Efektif Perkerasan (Ep) dan juga nilai SNeff (Structural Number Effective) dan nilai SNf (Structural Number in Future), Perbedaan nilai dari nilai kapasitas struktural yang akan datang (SNf) dengan kapasitas struktural perkerasan yang terpasang (SNeff) akan menentukan apakah suatu perkerasan memerlukan tebal lapis tambah atau tidak. Tebal lapis tambah yang dihasilkan dengan menggunakan metoda AASHTO-1993 antara 13 cm hingga 15 cm. Pada program ELMOD-6 penentuan tebal lapis tambah didasarkan pada modulus tiap lapisan, beban lalu lintas, tebal tiap lapis perkerasan dan jenis material pada tiap lapisan. Hasil dari program komputer ELMOD-6 diperoleh kebutuhan tebal lapis tambah antara 8 cm hingga 13 cm. Hal ini sesuai dengan realisasi dilapangan dimana tebal lapis tambah yang digunakan yaitu AC-WC dengan tebal 4 cm dan AC-BC dengan tebal 6 cm. Perbandingan hasil analisis antara metoda AASHTO-1993 dan program ELMOD-6 memberikan hasil yang berupa kebutuhan tebal lapis tambah yang berbeda. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan nilai tebal lapis tambah yang dihitung dengan menggunakan dua metode tersebut relatif kecil.