Article Details

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI DAN ANTIANEMIA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN TERAPI HEMODIALISIS DI SUATU RUMAH SAKIT SWASTA KOTA BANDUNG

Oleh   FEMILINA PRASTIWI NIM : 11614017
Kontributor / Dosen Pembimbing : PEMBIMBING : Dr. Lia Amalia, M. Si., Apt. ; Cindra Tri Yuniar, M.Si., Apt. ; Nurfitria Minangsih, S.Si., Apt.
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SF - Farmasi Klinik dan Masyarakat
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek :
Kata Kunci : Gagal ginjal kronik, hipertensi, anemia, tekanan darah, hemoglobin
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 2018-10-03 07:30:12

Ginjal merupakan organ penting yang memiliki fungsi utama yaitu ekskresi, eliminasi, dan regulasi homeostasis volume dan konsentrasi zat terlarut. Kelainan fungsi ginjal terdiri dari gagal ginjal akut (GGA) dan gagal ginjal kronik (GGK). Jumlah pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis selalu meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit yang paling banyak menyertai pasien GGK dengan terapi hemodialisis yaitu hipertensi dan anemia. Beberapa obat digunakan baik untuk mengobati gagal ginjal kronik, tekanan darah tinggi ataupun anemia yang menyertainya. Penggunaan obat yang beragam perlu diperhatikan agar pasien mendapatkan efek terapi yang diinginkan dan terhindar dari efek samping yang merugikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran dan mengevaluasi penggunaan antihipertensi dan antianemia pada pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis. Penelitian ini mencakup analisis ketepatan penggunaan obat, yaitu ketepatan indikasi, pasien, dan dosis, serta potensi interaksi obat untuk terapi penyakit hipertensi dan anemia beserta penurunan tekanan darah dan peningkatan kadar hemoglobin pasien GGK dengan terapi hemodialisis di rumah sakit swasta kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan obat antihipertensi (OAH) paling banyak dalam bentuk kombinasi yaitu kombinasi calcium channel blocker (CCB)-diuretik yaitu sebesar 17,1%. Evaluasi ketepatan terapi menunjukkan sebanyak 82,81% tepat indikasi dan 78,12% tepat obat dan pasien. Pada penggunaan antihipertensi sebanyak 64,06% tepat dosis dan 34,38% overdosis. Sedangkan pada penggunaan antianemia sebanyak 8,33% tepat dosis dan 91,67% dosis kurang. Terdapat potensi terjadinya interaksi obat dengan keparahan moderat 48,31% dan mayor 7,86%. Penurunan tekanan darah paling banyak dihasilkan oleh kombinasi 3 OAH baik pada tekanan darah pradialisis (p=0,006 untuk tekanan darah sistolik dan p=0,068 untuk tekanan darah diastolik) maupun tekanan darah pasca-dialisis (p=0,015 untuk tekanan darah sistolik dan p=0,013 untuk tekanan darah diastolik). Penggunaan antianemia juga dapat meningkatkan kadar hemoglobin pasien baik laki-laki (p=0,331) maupun perempuan (p=0,057).