Article Details

SIX SIGMA FRAMEWORK IMPLEMENTATION IN A TEXTILE COMPANY

Oleh   Maulida Mahdia Fatimah (NIM 19014009)
Kontributor / Dosen Pembimbing : Yuliani Dwi Lestari, Ph.D
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek :
Kata Kunci : textile industry, batik, quality, defect, Six Sigma, pareto, fishbone
Sumber :
Staf Input/Edit : Taupik Abidin  
File : 1 file
Tanggal Input : 2017-09-19 09:04:30

PT.X adalah salah satu perusahaan batik di Pekalongan, Jawa Tengah, yang memproduksi sarung, rok kain, selendang, taplak meja, dan sprei. Di antara kelima produk tersebut, kain sarung dan rok merupakan dua produk yang terus diproduksi. Perusahaan tersebut saat ini sedang menghadapi masalah manajemen operasional terkait dengan kualitas produk dimana barang cacat untuk kain sarung dan rok masih melebihi batas yang dapat diterima perusahaan, yaitu 2% dari total produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan penyebab utama dari masalah cacat produk dan memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan di PT X dengan menggunakan konsep kualitas Six Sigma, yang mengarahkan organisasi untuk mengantisipasi terjadinya produk yang cacat dengan menggunakan siklus define-measureanalysis-improve-control. Siklus tersebut mampu mengukur tingkat kinerja perusahaan dan mengidentifikasi penyebab akar permasalahan sehingga solusi perbaikan alternatif dapat diperoleh. Data kuantitatif dan kualitatif yang diambil dari PT X menunjukkan faktor kritis selama produksi dan tingkat kinerja sigma perusahaan. Rata-rata cacat kain sarung dan rok mencapai 3,2% dan 3,4%. Diagram kontrol atribut (laney p-chart) dilakukan untuk mengidentifikasi stabilitas proses dan hasilnya menunjukkan bahwa proporsi cacat pada produksi 2016 masih dalam kondisi stabil. Selanjutnya, tingkat sigma untuk sarung dan kain rok adalah 3,99 dan 3,97 yang mungkin tergolong baik untuk kinerja perusahaan. Namun, dilihat dari keinginan perusahaan untuk menurunkan jumlah barang cacat menjadi 2%, maka nilai sigma minimal yang harus dicapai oleh perusahaan adalah 4.15. Analisis pareto kemudian dilakukan untuk memprioritaskan jenis cacat untuk perbaikan. Sarung sobek dan rok samar adalah cacat yang paling sering terjadi. Kedua cacat tersebut lalu dianalisis untuk mengetahui akar penyebabnya dengan menggunakan diagram fishbone, dimana hasilnya menunjukkan bahwa akar penyebab robeknya kain adalah karena kurangnya pengendalian mutu bahan baku. Oleh karena itu, solusi yang diajukan adalah mengadakan sistem pengendalian mutu bahan baku sebelum proses produksi untuk memastikan kondisi dan kualitas kain setelah menerimanya dari pemasok. Di sisi lain, perawatan mesin tidak teratur diindikasikan sebagai akar penyebab rok kusam. Untuk mengatasi situasi ini adalah dengan melakukan perawatan rutin. Gangguan tenaga insidentil juga menyumbang masalah warna kusam yang bisa diminimalisir dengan memasang generator set redundansi (back up) sehingga bisa membantu mesin steamer menyala terus menerus dengan gangguan minimal. Sebagai kesimpulan, perusahaan harus mengembangkan sistem pengendalian mutu baru, memasang generator set, dan melakukan perawatan rutin untuk meningkatkan kualitas produk.