digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

El Niño 1997/98 dan 2015/16 merupakan dua kejadian super El Niño yang samasama kuat, tetapi menghasilkan respons oseanografi yang berbeda di Perairan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi kemampuan simulasi hindcast MITgcm, membandingkan karakteristik oseanografi kedua kejadian, serta mengkaji faktor-faktor yang berperan dalam menghasilkan perbedaan respons regional. Model Massachusetts Institute of Technology General Circulation Model (MITgcm) dijalankan untuk dua periode, yaitu 1994-2003 dan 2011-2017, dengan resolusi horizontal sekitar 0,03° atau ±3 km dan 50 lapisan vertikal. Simulasi dibangkitkan oleh data atmosferik dan oseanografi dari ERA5 dan HYCOM, sedangkan kondisi batas terbuka untuk suhu, salinitas, dan arus diterapkan melalui interpolasi spasial serta skema sponge layer. Hasil model diverifikasi menggunakan data Bluelink Reanalysis (BRAN). Hasil verifikasi menunjukkan bahwa MITgcm cukup mampu merepresentasikan kondisi oseanografi Perairan Indonesia, terutama variabilitas suhu dengan korelasi diatas 90%, kecuali pada Selat Makassar. Hasil simulasi menunjukkan bahwa respons Perairan Indonesia terhadap El Niño 1997/98 dan 2015/16 bersifat regional dan vertikal. Pada musim SON, El Niño 1997/98 lebih menonjol pada pendinginan permukaan di Samudra Hindia timur hingga selatan Jawa, disertai MLD yang lebih dalam dan salinitas permukaan yang lebih tinggi. Sebaliknya, El Niño 2015/16 menunjukkan respons bawah permukaan yang lebih kuat, ditandai oleh suhu lebih rendah pada kedalaman sekitar 156 m di Samudra Pasifik Barat, Laut Banda, dan Selatan Jawa, serta D20 yang lebih dangkal di beberapa wilayah selatan dan timur Indonesia. Perbedaan juga terlihat pada pola arus di sekitar Maluku, Halmahera, utara Papua, dan selatan Jawa-Nusa Tenggara, sementara transport upper-layer Arlindo selama El Niño cenderung melemah, terutama di jalur Labani/Selat Makassar. Secara keseluruhan, respons kedua super El Niño tidak dapat dijelaskan hanya dari nilai ONI, tetapi perlu dilihat berdasarkan wilayah, kedalaman, dan variabel oseanografi relevan.